kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.800.000   35.000   1,27%
  • USD/IDR 17.668   -8,00   -0,05%
  • IDX 6.095   -223,56   -3,54%
  • KOMPAS100 805   -27,79   -3,34%
  • LQ45 616   -14,28   -2,26%
  • ISSI 214   -11,19   -4,97%
  • IDX30 352   -8,00   -2,22%
  • IDXHIDIV20 439   -9,68   -2,16%
  • IDX80 93   -3,02   -3,15%
  • IDXV30 121   -3,14   -2,53%
  • IDXQ30 115   -2,35   -2,00%

Pengusaha Listrik Swasta Usul Eksekusi Proyek PLTS 100 GW Secara Bertahap & Realistis


Kamis, 21 Mei 2026 / 15:50 WIB
Pengusaha Listrik Swasta Usul Eksekusi Proyek PLTS 100 GW Secara Bertahap & Realistis
ILUSTRASI. Pemerintah targetkan bangun PLTS 100 gigawatt (ANTARA FOTO/Ahmad Naufal Oktavian)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengusaha di sektor ketenagalistrikan yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) menyambut target pemerintah untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas 100 Gigawatt (GW). Tetapi, APLSI memberi sejumlah catatan terkait proyek ambisius yang ditargetkan bisa rampung dalam tiga tahun ini.

Ketua Umum APLSI Eka Satria memandang target pengembangan PLTS 100 GW sebagai sinyal positif atas komitmen pemerintah dalam mempercepat transisi energi dan memperkuat ketahanan energi nasional. Sekaligus membuka peluang investasi besar di sektor energi bersih.

Selain memenuhi kebutuhan domestik, PLTS skala besar juga dapat membuka peluang ekonomi baru. Termasuk potensi devisa dari ekspor listrik hijau, masuknya penanaman modal asing, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan industri pendukung seperti manufaktur dan jasa teknis lainnya.

Baca Juga: Widodo Makmur (WMPP) Bidik Pendapatan Tumbuh 108% di 2026, Program MBG Jadi Pendorong

Hanya saja, APLSI menilai target PLTS 100 GW perlu dijalankan secara bertahap dan realistis. Pelaksanaan proyek ini perlu didukung kesiapan sistem kelistrikan secara menyeluruh. Termasuk transmisi, interkoneksi, pengaturan operasional pembangkit, fasilitas penyimpanan atau Battery Energy Storage System (BESS), lahan, perizinan, serta rantai pasok.

Faktor lain yang juga perlu menjadi perhatian adalah Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta skema jual-beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) yang bankable. "APLSI siap berdialog dan berkolaborasi dengan pemerintah, PLN, dan pemangku kepentingan lainnya agar program ini dapat dieksekusi secara realistis, bankable, dan memberi manfaat maksimal bagi sistem kelistrikan nasional," kata Eka saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (21/5/2026).

Eka mengamini proyek PLTS 100 GW membuka peluang yang sangat besar bagi produsen listrik swasta alias Independent Power Producer (IPP). Namun, ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan agar proyek ini bisa menarik minat investasi swasta. Mulai dari pipeline proyek yang jelas, tender yang transparan dan kompetitif, alokasi risiko yang wajar, kepastian pembayaran, serta mekanisme tarif yang menarik dan mencerminkan risiko proyek.

Menurut Eka, tarif sebaiknya tidak hanya dilihat dari harga listrik terendah. Tetapi juga mempertimbangkan lokasi, kesiapan jaringan, kebutuhan BESS, lahan, TKDN, biaya pendanaan, dan risiko curtailment. "Jika struktur tarif tidak bankable, minat investor dan lembaga pembiayaan tentu akan lebih terbatas," tegas Eka.

Apabila proyek ini dijalankan dengan desain program yang tepat, kesiapan grid, struktur proyek yang bankable, tarif menarik, serta keterlibatan swasta sejak awal, Eka meyakini program ini dapat menjadi motor investasi energi bersih sekaligus platform industrialisasi hijau nasional. "APLSI sangat mendukung arah besar PLTS 100 GW," tandas Eka.

Perlu Investasi Jumbo

Baca Juga: Kementerian ESDM Tetapkan ICP April 2026 Naik Menjadi US$ 117,31 per Barel

Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan target pemerintah untuk membangun PLTS dengan total kapasitas 100 GW. Kepala Negara menargetkan proyek ambisius ini bisa rampung dalam tiga tahun.

"Produksi listrik dari tenaga surya akan kita percepat. Kita sudah canangkan akan membangun 100 GW dari tenaga surya dalam tiga tahun ini," ungkap Prabowo dalam pidato di Rapat Paripurna DPR RI, Rabu (20/5/2026).

Dalam forum terpisah, Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jisman P. Hutajulu membeberkan kebutuhan investasi untuk pengembangan PLTS 100 GW mencapai sebesar US$ 71,3 miliar atau setara  Rp 1.140 triliun. Dengan kebutuhan investasi jumbo tersebut, pemerintah mengajak partisipasi dari sektor swasta untuk terlibat dalam proyek PLTS 100 GW.

"Untuk tahap pertama 17 GW dulu. Kalau (pengusaha) nggak menangkap (peluang ini) sayang sekali. Jadi memang harus masuk, harus hadir," kata Jisman di acara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Power Development Forum 2026, Rabu (20/5/2026).

Pemerintah telah mengklasifikasikan proyek ini dalam dua jenis. Pertama, PLTS skala besar yang terhubung jaringan. PLTS jenis ini dapat menyediakan listrik dengan harga yang ekonomis seiring dengan skala ekonomi yang besar.

Target kapasitas PLTS skala besar ini mencapai 87,5 Gigawatt peak (GWp) yang disertai dengan BESS sebesar 111 Gigawatt hour (GWh). Estimasi tarif untuk PLTS ini sekitar US$ 5,5 cent - 25 cent per kilowatt hour (kWh).

Kedua, PLTS skala kecil. Pemerintah menargetkan kapistas PLTS jenis ini mencapai 13,2 GWp dengan 34,8 GWh BESS. Estimasi tarif untuk PLTS skala kecil sekitar US$ 9 cent - US$ 40 cent per kWh. Sebagai catatan, rentang tarif tersebut bergantung pada kapasitas BESS. 

Jisman menambahkan, program PLTS 100 GW juga bertujuan untuk menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Dengan mengganti penggunaan diesel ke energi surya, pemerintah mengestimasikan bisa menghemat sekitar Rp 73,9 triliun per tahun.

"Kita nanti akan memperoleh penghematan sekitar Rp 74 triliun kalau program 100 GW ini sudah diselesaikan. Karena 100 GW ini akan ada menggantikan PLTD-PLTD yang sangat boros," ungkap Jisman.

Baca Juga: PT Andalan Artha Primanusa Kejar CAGR Pendapatan 28% hingga 2028

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×