kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Industri ayam perlu meningkatkan nilai tambah untuk menghadapi serbuan impor


Minggu, 11 Agustus 2019 / 17:23 WIB
Industri ayam perlu meningkatkan nilai tambah untuk menghadapi serbuan impor
ILUSTRASI. Peternakan ayam

Reporter: Agung Hidayat, Muhammad Julian | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebergantungan industri ayam dengan produk komoditas sudah harus dihilangkan, mengingat masuknya impor ayam dari Brasil ke Indonesia akibat kekalahan gugatan negara ini ke WTO. Untuk itulah produsen pakan dan ayam potong, PT Sierad Produce Tbk (SIPD) cukup getol bermain di ranah added value product alias produk dengan nilai tambah.

Adapun perkara gugatan WTO tersebut, menurut Tommy Wattemena, Direktur Utama SIPD hampir semua negara produsen ayam juga mengalami kekalahan yang sama terhadap Brasil. Filipina dan India belum lama ini telah membuka keran impor dari Negeri Samba tersebut.

Baca Juga: Ancaman arus impor ayam Brasil mengintai, begini tanggapan Malindo Feedmill

Meski demikian, Tommy masih optimistis pemerintah dapat memberikan perlindungan bagi industri. "Indonesia kan punya level ketahanan, terkait halal misalnya, pemerintah harus dapat bikin supply chain halal yang kuat," kata Tommy kepada Kontan.co.id, Minggu (11/8).

Selain itu produk ayam yang masuk dari Brasil itu kebanyakan jenis frozen product dengan ukuran ayam terbilang besar per ekornya memiliki berat 2,5 kg-3 kg yang kurang akrab bagi konsumen Indonesia. "Masyarakat di sini juga masih suka konsumsi ayam segar, sedangkan pangsa pasar ayam frozen terbilang kecil sekitar 2%-3% dari konsumsi ayam nasional," terang Tommy.

Meski tantangan di Indonesia berbeda, lebih lanjut ia bilang, bukan tidak mungkin produsen dari luar negeri tersebut mempelajari kondisi pasar Indonesia. "Lama-lama tentu mereka bisa berubah dalam 5-6 tahun ke depan. Dengan waktu itu pemerintah harus menyiapkan kebijakan yang akurat," sebutnya.

Baca Juga: Kinerja Sierad Produce (SIPD) makin ciamik pada paruh pertama 2019

Pertama, Tommy menyoroti persoalan tidak bolehnya impor jagung untuk pakan. Hal ini menyebabkan industri kurang kompetitif. Padahal biaya pakan memakan 50% beban produksi ayam potong dan petelur.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×