kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.944   -29,00   -0,16%
  • IDX 5.999   115,16   1,96%
  • KOMPAS100 778   14,20   1,86%
  • LQ45 588   9,58   1,66%
  • ISSI 208   4,74   2,33%
  • IDX30 333   5,83   1,78%
  • IDXHIDIV20 409   6,49   1,62%
  • IDX80 88   1,57   1,82%
  • IDXV30 111   2,39   2,20%
  • IDXQ30 107   1,91   1,82%

Potensi Industri Gim Nasional Besar, Tetapi Monetisasi Masih Jadi Tantangan


Kamis, 25 Juni 2026 / 18:13 WIB
Potensi Industri Gim Nasional Besar, Tetapi Monetisasi Masih Jadi Tantangan
ILUSTRASI. Pasar gim Indonesia mencapai US$ 2 miliar, (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri gim dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi motor pertumbuhan di sektor ekonomi kreatif Tanah Air. Namun, tantangan monetisasi masih menghambat kontribusi gim buatan dalam negeri terhadap perekonomian.

Direktur Gim Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) Luat Sihombing mengatakan, pasar gim Indonesia secara total saat ini bernilai lebih dari US$2 miliar per tahun.

Namun demikian, dari sisi pasar, porsi gim lokal masih terbatas yakni sekitar 2,5% dari total nilai pasar gim Tanah Air tersebut.

"Sedangkan kontribusi produk gim yang purely buatan pengembang lokal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di kisaran 0,17% hingga 0,34%," ujar Luat dalam acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Ekraf dan Coda di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Baca Juga: Kapal Gamsunoro Milik Pertamina Lewati Selat Hormuz, Sempat Tertahan Sejak Maret 2026

Di tengah pertumbuhan ekonomi digital, Luat menyoroti salah satu pekerjaan rumah bagi pemerintah adalah memperkecil kesenjangan pengetahuan mengenai model bisnis dan peluang monetisasi di industri gim.

Menurut dia, banyak studio lokal yang memiliki kemampuan membuat gim, tetapi belum memahami model bisnis yang bisa menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.

Untuk menjawab tantangan itu, pemerintah berupaya memperkuat industri melalui kolaborasi dengan pelaku usaha.

Deputi Bidang Kreativitas Digital & Teknologi Ekraf, Muhammad Neil El Himam menambahkan, tugas pihaknya adalah memperkuat ekosistem ekonomi kreatif termasuk gim secara keseluruhan.

"Tak hanya dari sisi sumber daya manusia (SDM) tetapi juga secara keseluruhan termasuk sistem pembayaran, transaksi, distribusi, hingga promosi," ujarnya.

Nah, kolaborasi dengan perusahaan monetisasi gim yang berbasis di Singapura, Coda, menjadi strategi yang ditempuh pemerintah melalui penandatanganan MoU antar keduanya pada Kamis (25/6/2026) ini.

Melalui MoU tersebut, kedua pihak sepakat berkolaborasi dalam pelaksanaan sejumlah program prioritas. Mulai dari peningkatan kapasitas SDM, fasilitas partisipasi pelaku industri digital dalam forum business-to-business (B2B), promosi produk dan talenta digital Indonesia, hingga pengembangan program inkubasi dan akselerasi.

Baca Juga: Kimia Farma Perkuat Bisnis Lewat Bahan Baku Lokal, Kurangi Risiko Impor dan Kurs

CEO Coda, Shane Happach mengatakan, melalui kerja sama perusahaan dengan Ekraf, pihaknya berharap dapat membantu baik pengembang maupun pemain gim Indonesia yang jumlahnya besar.

"Indonesia memiliki kreativitas dan basis pemain yang sangat besar. Tantangan utamanya adalah memastikan industri siap berkembang secara komersial, sehingga para pengembang memahami apa yang diperlukan untuk membangun bisnis yang berkelanjutan," ujar Shane.

Dia membeberkan, hingga saat ini Coda telah menjalin kemitraan dengan enam perusahaan gim lokal dan berharap jumlah tersebut terus bertambah. Terutama, seiring berjalannya implementasi kerja sama dengan pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×