kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.840.000   -44.000   -1,53%
  • USD/IDR 17.194   -12,00   -0,07%
  • IDX 7.624   -9,63   -0,13%
  • KOMPAS100 1.055   0,74   0,07%
  • LQ45 758   -0,56   -0,07%
  • ISSI 277   -0,36   -0,13%
  • IDX30 403   -0,20   -0,05%
  • IDXHIDIV20 491   1,00   0,20%
  • IDX80 118   0,06   0,05%
  • IDXV30 139   -0,86   -0,62%
  • IDXQ30 130   0,29   0,22%

Industri Herbal Tumbuh 8,35%, Produk Tiruan dan Edukasi Konsumen Masih Jadi Tantangan


Senin, 20 April 2026 / 09:58 WIB
Industri Herbal Tumbuh 8,35%, Produk Tiruan dan Edukasi Konsumen Masih Jadi Tantangan
ILUSTRASI. Industri Herbal Tumbuh 8,35%, Produk Tiruan dan Edukasi Konsumen Masih Jadi Tantangan (Dok/Kutus Kutus)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri herbal Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dan preventif. 

Namun, di tengah tren positif tersebut, industri masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari maraknya produk palsu hingga rendahnya literasi konsumen.

Data survei menunjukkan penggunaan obat tradisional masih tinggi. Di DKI Jakarta, misalnya, tercatat 70,82% rumah tangga menggunakan obat tradisional dalam tiga bulan terakhir. Sejalan dengan itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 8,35% sepanjang 2025.

Meski demikian, pelaku industri menilai pertumbuhan tersebut belum diiringi dengan penguatan ekosistem. Fazli Hasniel Sugiharto atau Arniel Sugiharto, pelaku industri herbal sekaligus owner Kutus Kutus, menyebut produk tiruan kini mudah ditemukan, terutama di platform e-commerce, dengan harga jauh lebih murah dibanding produk asli.

Baca Juga: Literasi Konsumen Rendah, Industri Herbal Lokal Hadapi Tantangan Kepercayaan Pasar

“Produk herbal sangat bergantung pada kualitas bahan baku dan konsistensi proses produksi. Ketika produk tiruan beredar tanpa standar yang jelas, risiko bagi konsumen meningkat, dan kepercayaan publik terhadap seluruh industri herbal bisa terganggu,” ujar Arniel dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).

Produk-produk tiruan tersebut umumnya tidak memiliki jaminan kualitas bahan baku, proses produksi, maupun sertifikasi yang memadai. Kondisi ini tidak hanya memicu persaingan usaha yang tidak sehat, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi konsumen.

Di sisi lain, rendahnya literasi konsumen turut memperumit kondisi pasar. Banyak konsumen masih memilih produk berdasarkan harga murah dan klaim hasil instan, tanpa memperhatikan aspek penting seperti asal bahan, jalur distribusi, hingga sertifikasi BPOM.

Arniel menilai masih banyak masyarakat yang menyamakan produk herbal dengan obat medis. Ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai dalam waktu singkat, produk herbal justru disalahkan.

“Jika ekspektasi ini sejak awal keliru, maka hubungan antara produk dan konsumen tidak akan sehat,” tegas Arniel.

Baca Juga: Nose Genjot Produksi Kosmetik Lokal melalui Pusat Riset Bahan Baku Herbal

Kondisi ini menciptakan paradoks: pasar herbal terus tumbuh, tetapi ekspektasi konsumen belum selaras dengan karakter produk herbal yang bersifat pendukung dan membutuhkan penggunaan jangka panjang.

Di pasar global, industri herbal bernilai ratusan miliar dolar AS dengan pertumbuhan yang kuat, didominasi kawasan Asia-Pasifik seperti China dan India. Kedua negara tersebut unggul dalam skala produksi, riset, serta penetrasi pasar internasional.

Sementara itu, Indonesia masih berada dalam tahap pengembangan dengan skala pasar domestik yang relatif lebih kecil, meskipun memiliki keunggulan berupa kekayaan biodiversitas dan tradisi jamu.

Ke depan, Arniel menilai kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat daya saing. 

Upaya peningkatan literasi konsumen, pengawasan yang lebih ketat, serta transparansi dari produsen diharapkan dapat menekan peredaran produk tiruan.

“Dengan begitu, industri herbal nasional tidak hanya tumbuh secara kuantitas, tetapi juga semakin dipercaya dan mampu bersaing di tingkat regional maupun global,” kata Arniel.

Baca Juga: SIDO Bidik Pertumbuhan 5–8% pada 2026, Fokus Ekspor dan Produk Minuman Herbal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...

Tag


TERBARU

[X]
×