kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.009   -40,00   -0,23%
  • IDX 7.153   104,47   1,48%
  • KOMPAS100 989   17,18   1,77%
  • LQ45 728   12,16   1,70%
  • ISSI 254   3,04   1,21%
  • IDX30 395   6,88   1,77%
  • IDXHIDIV20 494   6,04   1,24%
  • IDX80 112   1,95   1,78%
  • IDXV30 136   0,96   0,71%
  • IDXQ30 129   2,16   1,71%

Industri pengembangbiakan ayam didominasi pemain besar


Kamis, 17 November 2011 / 17:34 WIB
Industri pengembangbiakan ayam didominasi pemain besar
ILUSTRASI. Pekerja menyiram tanaman di Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (7/11/2020). Cuaca besok di Jawa dan Bali cerah berawan hingga hujan petir, menurut prakiraan BMKG.


Reporter: Dani Prasetya | Editor: Rizki Caturini

JAKARTA. Industri pengembangbiakan ayam broiler di Indonesia masih menjadi pasar yang sulit dimasuki pemain baru. Selain karena industri itu rentan dengan isu penyakit hewan seperti Avian Influenza alias flu burung, usaha pengembangbiakan ayam khususnya broiler masih didominasi produsen komersial skala besar.

Indonesia memiliki sekitar 40 produsen broiler, 16 perusahaan di antaranya termasuk kategori skala besar. Enam belas perusahaan skala besar itu menguasai 75% pangsa pasar industri produksi broiler.

Charoen Pokphand yang menguasai bisnis peternakan bibit ayam atau day-old-chick (DOC) hingga pabrik pengolahan daging ayam menguasai 30% pangsa pasar produksi broiler. Japfa Comfeed yang berbisnis utama sama dengan Charoen, memegang 20%, Malindo 8%, Sierad Produce 5%, CJ 6%, Wonokoyo 5%, dan produsen komersial lainnya memegang 25%.

Perusahaan skala besar itu rata-rata menguasai semua rantai pengembangbiakan ayam mulai dari pemberian pakan ayam hingga pengolahannya.

Sementara perusahaan kecil kebanyakan terlibat kontrak peternakan dengan para produsen komersial itu. Sisanya, perusahaan independen kelas menengah yang mengelola peternakan semikomersial.

Namun, banyaknya pemain pengembangbiakan DOC ini belum sejalan dengan konsumsi di dalam negeri. "Masyarakat Indonesia masih lebih mengandalkan tahu dan tempe sebagai sumber protein," ujar Managing Director Head of Food and Agribusiness Research and Advisory Asia Rabobank International John Baker, Kamis (17/11).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×