kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.864   21,00   0,12%
  • IDX 8.219   -46,79   -0,57%
  • KOMPAS100 1.159   -9,20   -0,79%
  • LQ45 830   -8,91   -1,06%
  • ISSI 295   -1,13   -0,38%
  • IDX30 433   -3,16   -0,73%
  • IDXHIDIV20 517   -3,83   -0,74%
  • IDX80 129   -1,09   -0,83%
  • IDXV30 143   -0,18   -0,13%
  • IDXQ30 140   -1,43   -1,02%

Industri sanitasi lesu, begini strategi yang dipasang pelaku usaha


Minggu, 15 September 2019 / 17:59 WIB
Industri sanitasi lesu, begini strategi yang dipasang pelaku usaha
ILUSTRASI. Produk TOTO


Reporter: Kenia Intan | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lesunya industri properti mempengaruhi industri sanitasi. Menurut Country Director Kohler Indonesia Ferry Tanumihardja, lesunya industri properti utamanya berpengaruh terhadap low segment atau segmen kelas bawah.

Sementara untuk high segment atau segmen kelas atas, lesunya industri properti  tidak berpengaruh signifikan. "Kohler segmen pasarnya atas, jadi ada pertumbuhan dibandingkan tahun lalu," jelas Ferry ketika dihubungi Kontan.co.id, Sabtu (15/9).

Baca Juga: Properti lesu, bisnis saniter diperkirakan ikut stagnan tahun ini

Meskipun industri sanitary tengah lesu, Kohler tetap mencoba untuk menyasar segmen pasar baru seperti segmen pasar medium. Hal ini dilakukan Kohler sambil terus mempertahankan segmen pasar utamanya, yakni segmen kelas atas.

Adapun menurut Ferry, segmen pasar medium tidak terlalu terpengaruh dengan lesunya industri properti, seperti yang dirasakan oleh segmen pasar kelas bawah. 

Sekadar informasi, Kohler optimistis tahun ini akan mencapai target pertumbuhan penjualan yang dibidik, yakni 40%. Diklaim Ferry, hingga saat ini saja Kohler sudah mencatatkan pertumbuhan penjualan hingga 25%.

Sisa dari target akan didorong dengan beberapa pesanan proyek properti segmen atas yang tengah bergulir. Asal tahu saja,  80% industri sanitary bergantung pada developer atau pengembang. 

Baca Juga: Industri sanitasi lesu, Kohler Indonesia mengandalkan segmen kelas atas

Lesunya industri sanitary juga dialami PT Surya Toto Indonesia Tbk. (TOTO). Sepanjang semester I, perusahaan mencatatkan penurunan penjualan bersih menjadi Rp 989,73 miliar dari sebelumnya Rp 1,14 triliun.

Adapun laba tahun berjalan perusahaan juga terseret turun  56,31% yoy menjadi Rp 63,16 miliar. 

Sedikit berbeda dengan Kohler, menghadapi pasar yang lesu TOTO justru mencoba menyasar ceruk pasar menengah ke bawah sebagai salah satu strateginya.

Baca Juga: Pertumbuhan cat propan melambat menjadi 15%

Berdasar data yang dihimpun Kontan.co.id, produk segmen bawah TOTO banyak diserap oleh daerah Indonesia yang belum terjamah produk sanitary

Melihat kondisi pasar dalam negeri yang tidak menentu, TOTO juga berusaha menggalakkan penjualan ekspornya, seperti ke negara Tiongkok, Amerika, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Timur Tengah. 

Tercatat di semester I 2019, penjualan ekspor TOTO justru naik 3,13% menjadi Rp 245,46 miliar, sementara penjualan domestiknya menurun 18,05% yoy menjadi Rp 744,27 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×