Reporter: Kenia Intan | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lesunya industri properti mempengaruhi industri sanitasi. Menurut Country Director Kohler Indonesia Ferry Tanumihardja, lesunya industri properti utamanya berpengaruh terhadap low segment atau segmen kelas bawah.
Sementara untuk high segment atau segmen kelas atas, lesunya industri properti tidak berpengaruh signifikan. "Kohler segmen pasarnya atas, jadi ada pertumbuhan dibandingkan tahun lalu," jelas Ferry ketika dihubungi Kontan.co.id, Sabtu (15/9).
Baca Juga: Properti lesu, bisnis saniter diperkirakan ikut stagnan tahun ini
Meskipun industri sanitary tengah lesu, Kohler tetap mencoba untuk menyasar segmen pasar baru seperti segmen pasar medium. Hal ini dilakukan Kohler sambil terus mempertahankan segmen pasar utamanya, yakni segmen kelas atas.
Adapun menurut Ferry, segmen pasar medium tidak terlalu terpengaruh dengan lesunya industri properti, seperti yang dirasakan oleh segmen pasar kelas bawah.
Sekadar informasi, Kohler optimistis tahun ini akan mencapai target pertumbuhan penjualan yang dibidik, yakni 40%. Diklaim Ferry, hingga saat ini saja Kohler sudah mencatatkan pertumbuhan penjualan hingga 25%.
Sisa dari target akan didorong dengan beberapa pesanan proyek properti segmen atas yang tengah bergulir. Asal tahu saja, 80% industri sanitary bergantung pada developer atau pengembang.
Baca Juga: Industri sanitasi lesu, Kohler Indonesia mengandalkan segmen kelas atas
Lesunya industri sanitary juga dialami PT Surya Toto Indonesia Tbk. (TOTO). Sepanjang semester I, perusahaan mencatatkan penurunan penjualan bersih menjadi Rp 989,73 miliar dari sebelumnya Rp 1,14 triliun.
Adapun laba tahun berjalan perusahaan juga terseret turun 56,31% yoy menjadi Rp 63,16 miliar.
Sedikit berbeda dengan Kohler, menghadapi pasar yang lesu TOTO justru mencoba menyasar ceruk pasar menengah ke bawah sebagai salah satu strateginya.
Baca Juga: Pertumbuhan cat propan melambat menjadi 15%
Berdasar data yang dihimpun Kontan.co.id, produk segmen bawah TOTO banyak diserap oleh daerah Indonesia yang belum terjamah produk sanitary.
Melihat kondisi pasar dalam negeri yang tidak menentu, TOTO juga berusaha menggalakkan penjualan ekspornya, seperti ke negara Tiongkok, Amerika, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan negara-negara Timur Tengah.
Tercatat di semester I 2019, penjualan ekspor TOTO justru naik 3,13% menjadi Rp 245,46 miliar, sementara penjualan domestiknya menurun 18,05% yoy menjadi Rp 744,27 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)