kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS702.000 -0,57%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Industri TPT menurun, perusahaan hulu kewalahan


Rabu, 10 Juli 2019 / 20:39 WIB

Industri TPT menurun, perusahaan hulu kewalahan
ILUSTRASI. Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI)

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) tengah mengalami penurunan. Rata-rata pertumbuhan impor dari dari tahun 2007 hingga 2018 lebih tinggi dibandingkan ekspornya, yakni sebesar 12,3%, sementara ekspor  TPT hanya tercatat 3,1%.

Buruknya kondisi industri TPT memaksa perusahaan-perusahaan yang bergabung di APSyFI mengurangi produksinya 15% hingga 20% sejak awal tahun 2019. Pengurangan produksi ini berkaca dari kondisi pasar di akhir 2018 yang tidak kunjung membaik.


PT Mitsubishi Petrochemical, sebagai industri hulu yang memasok bahan baku TPT bagi perusahaan yang tergabung dalam APSyFI pun turut merasakan dampaknya.

"Setelah lebaran ini, saya amati permintaan dari kustomer saya melemah," kata  Cecep Setiono, Divisi Manager, Marketing & Procurement PT Mitsubishi Pethrocemical ketika ditemui Kontan.co.id usai Evaluasi Kinerja Industri Serat dan Benang Filamen Semester I 2019, di Hotel Grand Sahid Jaya, Rabu (10/7).

Ia menjelaskan, PT Mitsubishi Pethrocemical  juga mengalami penurunan permintaan 15% hingga 20%. Hal ini dikarenakan industri TPT di Indonesia terintegrasi dari hulu hingga hilir. Asal tahu saja, hanya ada tiga negara dengan industri TPT terintegrasi yakni Indonesia, China, dan India.

PT Mitsubishi  Pethrocemical mengkhawatirkan jika penurunan ini terus terjadi, maka akan mempengaruhi kegiatan produksi dan kualitas produk yang dihasilkan. Industri TPT adalah industri  yang terus bekerja selama 24 jam. Jika hasil produksinya tidak terserap maka tidak menutup kemungkinan pabrik akan dihentikan dalam waktu yang cukup lama.

"Produk tidak bagus kalau ada yang berhenti," kata Cecep lagi. Ia menambahkan, setidaknya perlu waktu hingga seminggu jika ingin menghentikan mesin sesuai prosedur.

Sekadar informasi,  APSyFI melihat industri ini sudah tidak sehat dalam kurun waktu lima tahun terakhir sebab banjirnya produk impor. Kondisi ini diperlemah dengan Permendag No 64 tahun 2017 yang mengizinkan importir pedagang (API-U), sementara pengendaliannya sendiri masih belum jelas. 


Reporter: Kenia Intan
Editor: Azis Husaini
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.1045 || diagnostic_web = 0.3361

Close [X]
×