Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Trisula International Tbk (TRIS) melihat prospek kinerja pada tahun 2026 masih cukup menjanjikan, di tengah dinamika pasar yang semakin selektif di industri tekstil.
Direktur Utama TRIS Widjaya Djohan mengatakan, perseroan memproyeksikan kinerja akan tetap bertumbuh pada tahun ini seiring dengan mulai pulihnya permintaan global secara bertahap.
“Tahun 2026 tetap memiliki peluang yang baik dan prospektif, meskipun diwarnai dinamika pasar yang lebih selektif, kami memproyeksikan kinerja akan mengalami pertumbuhan,” ungkap Widjaya, kepada Kontan.co.id, Jumat (6/3).
Menurutnya, pemulihan permintaan khususnya datang dari segmen pelanggan yang menekankan konsistensi kualitas, fleksibilitas produksi, serta kemampuan multi-skill dalam proses manufaktur.
Baca Juga: PLN Ungkap Ketahanan Bahan Bakar PLTU Tanjung Jati B dan PLTU Batang di Atas 10 Hari
Selain itu, TRIS juga melihat perkembangan positif dari peningkatan order dan pengembangan produk baru dari pelanggan eksisting.
Di sisi lain, kontribusi mulai datang dari pelanggan baru yang telah berhasil diakuisisi oleh perseroan untuk pasar ekspor, meliputi Amerika Serikat dan Singapura.
Namun demikian, manajemen TRIS masih menghitung target pertumbuhan pendapatan dan laba bersih untuk tahun ini. Hal ini lantaran hasil kinerja keuangan tahun buku 2025 masih belum final.
Meski begitu, perseroan optimistis kinerja tahun ini dapat lebih baik dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
“Angka target pertumbuhan masih dihitung karena hasil tahunan 2025 masih belum final. Akan tetapi kami optimistis bisa mendapat hasil yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Widjaya.
Untuk mendukung ekspansi bisnis, TRIS menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 35 miliar pada tahun 2026.
Dana tersebut akan difokuskan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi operasional, kualitas produk, serta menambah kapasitas produksi.
Di tengah peluang pertumbuhan tersebut, industri tekstil global juga menghadapi tantangan. Salah satu tantangan utama adalah semakin ketatnya persaingan dari negara-negara produsen tekstil besar seperti China, India, Vietnam, dan Bangladesh yang menawarkan produk dengan harga relatif murah melalui produksi berskala besar.
Widjaya mengatakan, TRIS memilih untuk tidak bersaing secara langsung pada pasar massal tersebut. Perseroan lebih fokus menyasar segmen pasar khusus atau niche market.
“TRIS sendiri bermain di pasar yang berbeda, yaitu menyasar niche market,” ujarnya.
Untuk memperkuat posisi di pasar, TRIS menyiapkan sejumlah strategi bisnis. Salah satunya adalah memperkuat merek ritel milik perseroan, yakni JOBB dan Jack Nicklaus, sekaligus memperluas jaringan penjualannya.
Di sisi lain, TRIS tetap fokus memperluas pasar ekspor dengan menjaga hubungan dengan pelanggan yang sudah ada sekaligus mencari peluang pelanggan baru di pasar domestik maupun global.
“TRIS secara konsisten mengandalkan kualitas serta fleksibilitas yang dapat disesuaikan dengan para pelanggan. Hal ini menjadi nilai tambah bagi TRIS dalam bersaing di pasar global,” tandasnya.
Baca Juga: Pemenang Tender Waste To Energy Diumumkan, Pengamat Ingatkan Risiko Fiskal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













