kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Ini tanggapan WIKA terkait konglomerasi BUMN


Kamis, 25 April 2013 / 19:53 WIB
Ini tanggapan WIKA terkait konglomerasi BUMN
ILUSTRASI. Karyawan melayani nasabah Mandiri Tunas Finance di MTF Costumer Experience Lounge, Jakarta, Jumat (2/7). KONTAN/Carolus Agus Waluyo/02/07/2021.


Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

JAKARTA. Belum lama ini beredar kabar tentang konglomerasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ada kekhawatiran pula dari pihak kementerian jika perilaku ini mampu mematikan para pelaku bisnis sektor swasta.

Bintang Perbowo, Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WIKA), menampik isu tersebut. "Coba saya balik pertanyaannya. Sebenarnya yang besar itu BUMN atau swasta?" ujarnya, saat paparan publik Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) WIKA.

Lebih jauh Bintang menanggapi, sebenarnya pihak swasta juga memiliki cakupan pasar yang luas. Jadi, potensi konglomerasi juga juga ada.

"Swasta saja banyak melakukan, masa kami tidak boleh," tukas Bintang. Menurutnya, itu hal yang wajar dalam persaingan bisnis asalkan dalam penerapannya tidak melewati koridor-koridor tertentu.

Selama ini, peraturan yang berlaku juga sebenarnya lebih memberikan keleluasaan lebih bagi pihak swasta. Sementara, BUMN perlu mendapat restu dari berbagai pihak jika ingin mengerjakan proyek tertentu.

"Jadi sebenarnya swasta lebih mudah. Kami ingin sinergi antar BUMN saja sudah banyak yang ribut. Swasta boleh besar, BUMN juga bisa," pungkas Bintang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×