kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Inilah penyebab Menteri Lutfi jadi pusing


Kamis, 26 Juni 2014 / 14:40 WIB
Inilah penyebab Menteri Lutfi jadi pusing
ILUSTRASI. Percepatan penurunan stunting pada anak masih menjadi salah satu program prioritas pemerintah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/rwa.


Reporter: Handoyo | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengakui persoalan hortikultura khususnya cabai rumit. Saat ini harga cabai merah ditingkat pasar berada dikisaran Rp 12.000 per kg-Rp 18.000 per kg, sementara ditingkat petani hanya Rp 6.000 per kg-Rp 8.000 per kg. "Cabai saat harga naik kita pusing, turun juga pusing," kata Lutfi, Kamis (26/6).

Kemendag sendiri saat ini sedang menggodog beberapa formula untuk stabilisasi harga cabai tersebut. Salah satunya adalah melakukan sosialisasi pemasaran cabai ke dalam bentuk kering sehingga lebih dapat bertahan lama. Selain itu, untuk menjaga stabilitas harga ditingkat petani Kemendag juga mengkaji adanya floor price atau harga dasar.

Srie Agustina Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag menambahkan, sebetulnya dalam penetapan harga referensi impor cabai sudah dimasukkan aspek ongkos produksi. Adapun biaya produksi untuk cabai tersebut sekitar Rp 11.000 per kg.

Luas areal lahan pembudidayaan cabai di dalam negeri sekitar 600.000 hektar (ha). Dari luasan tersebut, produksi cabai jenis cabai merah dan keriting mencapai 800.000 ton hingga 1 juta ton. Sedangkan untuk produksi cabai rawit sekitar 600.000 ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×