Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah tengah membuka peluang investasi hijau secara luas guna mempercepat pengembangan energi bersih di Indonesia dengan kebutuhan dana sektor ketenagalistrikan mencapai lebih dari US$ 500 miliar. Namun, besarnya kebutuhan dana tersebut dinilai menuntut kesiapan struktur proyek yang lebih matang agar menarik di mata investor.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, angka US$ 500 miliar tersebut merupakan sinyal arah kebijakan yang mencakup penambahan kapasitas pembangkit, pembangunan transmisi, hingga modernisasi sistem kelistrikan. Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan pada likuiditas global, melainkan pada bankability proyek tersebut.
"Faktor paling krusial adalah kepastian harga dan kontrak jangka panjang melalui skema PPA yang benar-benar kredibel. Selama struktur kontraknya masih dianggap tidak pasti atau terlalu berat di sisi pengembang, investor akan cenderung menahan diri," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (23/4).
Baca Juga: Hyundai Motor Ekspansi di Segmen Gim, Sasar Generasi Melek Digital
Yusuf juga menyoroti hambatan struktural seperti kapasitas neraca PLN sebagai single off-taker yang terbatas akibat beban kontrak pembangkit eksisting, serta risiko nilai tukar pada komponen impor.
Selain itu, lanjut dia, subsidi energi fosil dinilai menciptakan distorsi harga yang membuat energi terbarukan sulit bersaing secara alami tanpa intervensi kebijakan.
"Kapasitas neraca PLN sebagai single off-taker masih terbatas, terutama karena beban kontrak pembangkit eksisting. Risiko nilai tukar juga signifikan karena banyak komponen energi terbarukan masih bergantung pada impor," jelasnya.
Secara kalkulasi riil, Yusuf memproyeksikan realisasi investasi yang masuk akal dalam dua tahun ke depan berada di kisaran US$ 15 miliar hingga US$ 25 miliar. Angka ini merupakan kombinasi dari investasi EBT tahunan, akselerasi pembiayaan internasional, serta kontribusi belanja PLN dan swasta domestik yang secara konservatif berkisar US$ 7 miliar hingga US$ 12 miliar per tahun.
"Keterbatasan utama bukan pada ketersediaan dana global, melainkan pada kemampuan domestik untuk menyerap investasi tersebut secara cepat dan efisien. Percepatan hanya bisa terjadi jika perbaikan dilakukan secara simultan mulai dari kontrak yang lebih bankable, realisasi pembiayaan yang lebih cepat, hingga pembangunan infrastruktur transmisi yang konkret," pungkasnya.
Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) Perkuat Ekosistem Herbal Lewat Platform Digital Sido HerbalPedia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













