kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   -50.000   -1,70%
  • USD/IDR 16.949   -61,00   -0,36%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Investasi Hilirisasi Menanjak, Tapi Jalan Terjal Masih Mengadang


Sabtu, 21 Maret 2026 / 17:04 WIB
Investasi Hilirisasi Menanjak, Tapi Jalan Terjal Masih Mengadang
ILUSTRASI. Smelter Nikel - Feronikel Antam MIND ID (Dok/ANTM)


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya hilirisasi industri tambang nasional menunjukkan kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, namun tantangan struktural dan dinamika global masih membayangi keberlanjutannya.

Momentum ini tercermin dari derasnya aliran investasi. Sepanjang Januari–September 2025, realisasi investasi hilirisasi tercatat mencapai Rp 431,4 triliun, melonjak 58,1% secara tahunan. 

Angka tersebut menandakan transformasi industri dari sekadar eksportir bahan mentah menuju produsen bernilai tambah mulai berjalan.

Di sisi pelaku, MIND ID menjadi salah satu motor utama pengembangan hilirisasi. Sejumlah proyek strategis telah berjalan, mulai dari rantai pengolahan bauksit hingga aluminium, smelter tembaga terintegrasi dengan fasilitas pemurnian logam mulia di Gresik, hingga proyek pengolahan nikel di Sulawesi.

Baca Juga: Mendukung Kelancaran Mudik Lebaran 2026, Mind Id Siapkan 28 Bus dan 4 Kapal

Namun, di balik progres tersebut, pelaku industri masih dihadapkan pada berbagai tantangan eksternal. Volatilitas harga komoditas global, pergeseran rantai pasok, hingga perubahan teknologi, khususnya pada bahan baku baterai, memaksa strategi bisnis terus beradaptasi.

Belum lagi tensi geopolitik dan kebijakan dagang negara mitra yang turut memengaruhi arah industri.

Di dalam negeri, kebijakan pembatasan ekspor mineral mentah dinilai mulai memberikan dorongan bagi pengembangan sektor midstream dan downstream.

Tujuannya untuk memperkuat rantai pasok domestik sekaligus meningkatkan nilai tambah produk berbasis sumber daya alam.

Dari sisi fundamental, Indonesia memiliki modal besar. Data United States Geological Survey menempatkan Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, sekitar 55 juta ton.

Baca Juga: Perubahan Status ANTM dan PTBA Serta Dorong Program Hilirisasi, Simak Langkah Mind Id

Sementara itu, cadangan bauksit dan batubara juga masih melimpah, masing-masing mencapai miliaran ton.

Meski demikian, sejumlah pekerjaan rumah masih perlu dibereskan. Ketersediaan energi yang andal untuk smelter, tata kelola perdagangan yang transparan, hingga insentif fiskal yang tepat sasaran dinilai menjadi kunci agar investasi hilirisasi dapat terus berlanjut ke tahap yang lebih dalam.

Division Head Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, mengatakan forum evaluasi lintas pemangku kepentingan diperlukan untuk memastikan arah kebijakan tetap selaras dengan tantangan yang ada.

"KILAS menjadi ruang strategis bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi capaian program strategis dan memastikan setiap tantangan yang dihadapi mampu terselesaikan dengan langkah strategis yang disepakati bersama," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, Jumat (20/3/2026).

Ia menambahkan, hilirisasi bukan proses instan, melainkan agenda jangka panjang yang membutuhkan konsistensi dan kolaborasi berbagai pihak.

Baca Juga: Proyek Hilirisasi Bauksit MIND ID Senilai Rp104,5 Triliun Ditarget Selesai 2028

Ke depan, keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa kuat struktur industri yang terbentuk. Dengan fondasi yang lebih kokoh, hilirisasi diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×