Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) mendukung rencana pemerintah memperketat impor truk bekas asal China. Kebijakan tersebut dinilai dapat mendorong persaingan yang lebih sehat di pasar kendaraan niaga nasional.
Communication Management Dept Head PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Puti Annisa Moeloek mengatakan, setiap kendaraan yang masuk dan beredar di Indonesia perlu memenuhi ketentuan serta standar yang berlaku.
“Isuzu pada prinsipnya mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan iklim industri otomotif nasional yang sehat dan berkelanjutan. Menurut kami, setiap produk kendaraan yang masuk dan beredar di Indonesia perlu memenuhi ketentuan, standar, serta regulasi yang berlaku,” ujar Puti kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).
Menurut dia, persaingan di pasar kendaraan niaga tidak hanya perlu mempertimbangkan harga, tetapi juga aspek kualitas, keselamatan, layanan, serta kontribusi terhadap industri nasional.
Puti mengakui keberadaan truk bekas impor menjadi salah satu faktor dalam dinamika pasar kendaraan niaga, terutama bagi konsumen yang mempertimbangkan besarnya investasi awal.
Baca Juga: Isuzu Perkuat Strategi Purnajual di GIIAS 2026, Bidik Efisiensi Operasional Armada
Namun, menurut dia, keputusan pembelian kendaraan niaga tidak semata-mata didasarkan pada harga unit. Pelanggan juga mempertimbangkan efisiensi operasional, produktivitas, ketersediaan suku cadang, layanan purnajual, hingga total cost of ownership (TCO).
“Keputusan pembelian kendaraan niaga tidak hanya didasarkan pada harga unit, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi operasional, produktivitas, ketersediaan suku cadang, layanan purnajual, serta total cost of ownership,” jelasnya.
Dengan demikian, masing-masing pelanggan memiliki pertimbangan berbeda dalam memilih kendaraan sesuai kebutuhan dan karakteristik bisnis.
Terkait potensi peningkatan permintaan truk baru apabila impor truk bekas diperketat, Isuzu melihat perubahan kebijakan pemerintah dapat membawa dinamika baru terhadap pasar kendaraan niaga.
Meski demikian, Isuzu tidak hanya mengandalkan perubahan regulasi untuk mendorong penjualan. Perusahaan akan tetap berfokus menyediakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis pelanggan.
Strategi tersebut dilakukan melalui penyediaan produk yang kompetitif, efisiensi operasional, dukungan pembiayaan melalui mitra, serta penguatan layanan purnajual dan ketersediaan suku cadang melalui jaringan Isuzu.
Baca Juga: Isuzu Perkuat Karawang Jadi Basis Ekspor,Kirim 40.500 Unit Kendaraan Menuju 25 Negara
“Fokus Isuzu tetap pada bagaimana memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis pelanggan, baik melalui produk yang kompetitif, efisiensi operasional, dukungan pembiayaan melalui mitra, maupun layanan purnajual dan ketersediaan suku cadang melalui jaringan Isuzu,” kata Puti.
Isuzu juga menekankan pengalaman lebih dari 50 tahun beroperasi di Indonesia serta dukungan fasilitas produksi lokal sebagai modal untuk memperkuat layanan kendaraan niaga.
Menurut Puti, pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi Isuzu dalam memperkuat Total Solutionbagi pelanggan. Dengan begitu, kendaraan tidak hanya dinilai dari harga pembelian awal, tetapi juga produktivitas dan biaya operasional selama masa penggunaan.
Kebijakan pengetatan impor truk bekas sendiri menjadi salah satu isu yang tengah mendapat perhatian industri otomotif, mengingat kendaraan niaga memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas logistik dan distribusi nasional. Bagi pelaku industri, penerapan standar dan regulasi yang sama terhadap kendaraan yang beredar menjadi salah satu faktor dalam menjaga persaingan pasar.
Baca Juga: Isuzu Perluas Fungsi Kendaraan Niaga, Bidik Peluang Bisnis di Luar Logistik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














