Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan rugi bersih pada semester I-2026 setelah setahun sebelumnya meraih laba besar. Namun, pelemahan kinerja tersebut bukan semata-mata berasal dari operasional, melainkan dipengaruhi beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait proses refinancing utang.
Pada semester I-2026, KIJA membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp 2,43 triliun pada semester I-2026, turun 11% dibandingkan Rp 2,72 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pada periode yang sama KIJA mencatat rugi bersih sebesar Rp 6,4 miliar, berbalik dari laba bersih Rp 627,6 miliar pada semester I-2025.
Baca Juga: Lippo Cikarang (LPCK) Kantongi Pra-Penjualan Rp 902 Miliar, Sudah 53% dari Target
Rugi bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes KIJA menjadi pinjaman bank. Beban tersebut meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif alias lindung nilai (hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat atas senior notes yang jatuh tempo pada 2027.
Merujuk siaran pers yang dirilis pada Jumat (31/7/2026) dijelaskan, biaya tersebut merupakan konsekuensi dari langkah strategis untuk melakukan refinancing atas Senior Notes berdenominasi dolar Amerika Serikat menjadi fasilitas pinjaman bank dalam mata uang rupiah.
Langkah ini diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang meski berdampak sementara terhadap kinerja keuangan pada periode berjalan.
Di luar pos-pos non-berulang tersebut, KIJA masih membukukan laba operasional sebesar Rp 524 miliar pada semester I-2026, turun dari Rp 822,8 miliar pada semester I-2025.
Penurunan laba operasi terutama disebabkan lebih rendahnya pengakuan pendapatan dari penjualan lahan industri akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal.
Dari sisi segmen usaha, pendapatan Pilar Pengembangan Lahan & Properti turun 32% menjadi Rp 974,9 miliar dari Rp 1,44 triliun pada semester I-2025. Penurunan terutama disebabkan pendapatan penjualan lahan industri yang turun 41% menjadi Rp 783,7 miliar akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal.
Baca Juga: Data Center Dongkrak Laba Puradelta (DMAS) 175%, Pendapatan Naik Tiga Kali Lipat
Di sisi lain, penjualan lahan industri dan bangunan pabrik siap pakai meningkat menjadi Rp 94,3 miliar dari Rp 18,3 miliar. Sementara penjualan lahan dan rumah hunian naik menjadi Rp 33,7 miliar dari Rp 22,7 miliar, mencerminkan permintaan yang tetap sehat terhadap properti industri maupun residensial.
Sementara itu, Pilar Infrastruktur mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 15% menjadi Rp 1,39 triliun dari Rp 1,22 triliun pada semester I-2025. Kenaikan didorong oleh segmen listrik yang meningkat menjadi Rp 921,6 miliar dari Rp 849,1 miliar seiring meningkatnya konsumsi listrik tenant di Kendal dan Cikarang.
Pendapatan jasa dan pemeliharaan yang meliputi penyediaan air bersih, pengolahan air limbah, pengelolaan kawasan, dan layanan lainnya juga naik 39% menjadi Rp 347,2 miliar dari Rp 250,2 miliar, terutama didorong meningkatnya permintaan tenant di Kendal.
Adapun pendapatan Cikarang Dry Port (CDP) meningkat menjadi Rp 129,4 miliar dari Rp 121,3 miliar, didukung kenaikan volume peti kemas sebesar 13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu serta pertumbuhan bisnis logistik pendukung.
Dengan pertumbuhan tersebut, kontribusi pendapatan berulang dari Pilar Infrastruktur meningkat menjadi 57% dari total pendapatan konsolidasian pada semester I-2026, dibandingkan 45% pada semester I-2025.
Di sisi lain, pendapatan Pilar Leisure & Hospitality relatif stabil di level Rp 63,4 miliar. Sekitar 65% pendapatan pilar ini berasal dari bisnis golf yang dinilai memberikan kontribusi konsisten terhadap diversifikasi pendapatan Perseroan.
Sementara itu, Adjusted EBITDA tercatat sebesar Rp 747,7 miliar pada semester I-2026, turun 25% dibandingkan Rp 995,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: JECX Genjot Ekspansi, Garap Rumah Sakit Mata di KEK Sanur dan Tambah Dua Cabang
Dari sisi pemasaran, marketing sales Pilar Pengembangan Lahan & Properti mencapai Rp 1,19 triliun atau setara 32% dari target marketing sales tahun 2026 sebesar Rp 3,75 triliun.
Kontribusi marketing sales dari Cikarang dan wilayah lainnya mencapai 29%, terutama berasal dari penjualan lahan industri seluas 3 hektare kepada perusahaan tekstil Indonesia dan 0,7 hektare kepada perusahaan importir bahan bangunan asal China.
Sementara Kendal menyumbang 71% marketing sales, didukung penjualan lahan seluas 7 hektare kepada produsen baterai serta 9,7 hektare kepada produsen peralatan rumah tangga asal Indonesia.
Wakil Direktur Utama Kawasan Industri Jababeka Budianto Liman mengatakan, kinerja pada semester pertama mencerminkan semakin besarnya kontribusi bisnis infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang, yang kini telah menyumbang lebih dari separuh pendapatan konsolidasian.
“Meskipun kinerja keuangan pada semester pertama dipengaruhi oleh lebih rendahnya kontribusi bisnis pengembangan lahan dibandingkan semester pertama tahun lalu yang sangat kuat, rugi bersih yang dilaporkan terutama disebabkan oleh biaya satu kali yang bersifat nonoperasional berupa rugi selisih kurs dan penghentian instrumen derivatif terkait refinancing Senior Notes kami,” ungkap Budianto, dalam rilis, Jumat (31/7/2026).
Di luar pos-pos yang tidak berulang tersebut, Jababeka tetap mencatatkan laba pada tingkat operasional. KIJA terus melihat permintaan yang baik terhadap lahan industri baik di Cikarang maupun Kendal, sembari tetap fokus pada eksekusi yang disiplin di seluruh lini bisnis serta memperkuat basis pendapatan berulang kami.
Baca Juga: EBITDA BUMA International (DOID) Tumbuh Positif
“Ke depan, perusahaan ini tetap menargetkan marketing sales sebesar Rp 3,75 triliun pada 2026 dan terus meningkatkan kontribusi pendapatan berulang melalui Pilar Infrastruktur. Manajemen meyakini permintaan yang berkelanjutan dari tenant industri di kawasan Cikarang dan Kendal akan terus mendukung pertumbuhan jangka panjang pendapatan berulang dari utilitas, logistik, dan layanan pengelolaan kawasan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
