Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI membukukan pertumbuhan pendapatan pada semester I 2026.
Namun, penguatan kinerja bisnis utama belum mampu menahan penurunan laba bersih karena perseroan masih menanggung kerugian besar dari entitas asosiasi dan ventura bersama, termasuk investasi pada proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh).
Berdasarkan Laporan Keuangan KAI Group Semester I/2026 (unaudited), pendapatan KAI tercatat sebesar Rp 17,96 triliun. Jumlah tersebut meningkat 6,61% dari Rp 16,85 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan pendapatan diikuti perbaikan margin usaha. Laba bruto KAI mencapai Rp 6,79 triliun, tumbuh 18,81% dibandingkan Rp 5,72 triliun pada semester I 2025.
Laba usaha perseroan juga meningkat lebih tinggi, yakni 25,79% menjadi Rp 4,66 triliun. Pada paruh pertama tahun lalu, laba usaha KAI masih sebesar Rp 3,71 triliun.
Baca Juga: Transformasi Layanan Berbuah Hasil, KAI Layani 128 Juta Pelanggan pada Kuartal I 2026
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan capaian itu menunjukkan kegiatan bisnis utama KAI Group terus menguat seiring pertumbuhan layanan, peningkatan produktivitas, pengelolaan biaya, serta sinergi seluruh entitas perusahaan.
“Pertumbuhan pendapatan dan laba usaha menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang,” ujar Anne dalam keterangan tertulis, Senin (3/8/2026).
Meski demikian, peningkatan laba usaha tidak berlanjut hingga pos laba akhir. KAI membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 842,69 miliar, turun 54,6% dari Rp 1,86 triliun pada semester I 2025.
Setelah memperhitungkan beban pajak, laba tahun berjalan KAI hanya mencapai Rp 314,03 miliar. Angka itu menyusut sekitar 73,4% dibandingkan Rp 1,18 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: KAI Garap Bisnis Media Transit, Bidik Iklan dari 430 Juta Penumpang per Tahun
Penyusutan laba terjadi seiring membengkaknya bagian rugi bersih entitas asosiasi dan ventura bersama. Nilainya melonjak menjadi Rp 2,99 triliun pada semester I 2026, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan Rp 948,19 miliar pada semester I 2025.
Kerugian tersebut menyerap sebagian besar keuntungan yang diperoleh KAI dari kegiatan operasional. Alhasil, pertumbuhan pendapatan dan laba usaha belum cukup untuk memperbaiki laba bersih perseroan.
Salah satu sumber tekanan berasal dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), perusahaan konsorsium BUMN yang menjadi pemegang saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator Whoosh. Besarnya kerugian dari entitas asosiasi menunjukkan bahwa beban investasi proyek kereta cepat masih membayangi kinerja konsolidasian KAI.
Baca Juga: KRL Jabodetabek Overkapasitas hingga 161%, KAI Siapkan Penambahan Infrastruktur
Sebelumnya, Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan penyelesaian persoalan yang membebani keuangan KAI, termasuk proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung, masih membutuhkan waktu.
Dony menjelaskan, persoalan tersebut telah ada sebelum Danantara masuk dan memiliki skala yang sangat besar. Dengan keterbatasan kapasitas, penyelesaiannya harus dilakukan secara bertahap.
“Kami yang baru ini kan sebetulnya menyelesaikan problem-problem yang ada ya. Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya dengan dimensi yang luar biasa besarnya kan. Nah tentu energinya juga terbatas, satu-satu harus diberesin,” kata Dony di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Baca Juga: KAI Genjot Pengadaan 16 Trainset KRL Baru dari INKA, Nilai Kontrak Rp 3,85 Triliun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
