CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.566   37,00   0,21%
  • IDX 6.589   -88,86   -1,33%
  • KOMPAS100 866   -10,49   -1,20%
  • LQ45 656   -8,27   -1,25%
  • ISSI 230   -3,63   -1,55%
  • IDX30 365   -4,62   -1,25%
  • IDXHIDIV20 452   -4,51   -0,99%
  • IDX80 99   -1,12   -1,12%
  • IDXV30 126   -0,86   -0,68%
  • IDXQ30 117   -1,27   -1,08%

Kalangan Korporasi Didorong Lakukan Transformasi GRC Berbasis Continuous Assurance


Kamis, 10 September 2026 / 14:33 WIB
Kalangan Korporasi Didorong Lakukan Transformasi GRC Berbasis Continuous Assurance
ILUSTRASI. Managing Director Risk & Sustainability BPI Danantara, Effendi Hengki. (Dok. Danantara/Danantara)


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan di  Indonesia didorong menguatkan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (Governance, Risk and Compliance/GRC) melalui pergeseran dari pendekatan tradisional berbasis pemeriksaan sesaat menuju continuous assurance yang lebih adaptif terhadap dinamika risiko di era digital.

Pendekatan tersebut disampaikan Managing Director Risk & Sustainability BPI Danantara, Effendi Hengki, dalam pemaparan mengenai penguatan fondasi GRC di tengah meningkatnya kompleksitas dan kecepatan perubahan risiko digital.

Menurut Effendi, perubahan lingkungan bisnis dan teknologi menuntut organisasi untuk tidak lagi mengandalkan pemeriksaan berbasis sampel historis atau snapshot.

“Risiko seperti kebocoran data, kecurangan finansial, perubahan konfigurasi sistem, maupun persoalan akses dapat berkembang dalam hitungan menit sehingga membutuhkan mekanisme pengawasan yang berlangsung secara berkelanjutan,” kata Effendi dalam keterangannya, Kamis (10/9).

Baca Juga: Taurus Gemilang Berinvestasi di Produsen Minuman ZOZO

Continuous assurance menawarkan paradigma dengan memanfaatkan data secara lebih luas dan real-time, validasi otomatis serta integrasi sistem. Dalam model ini, beban pengawasan tidak terkonsentrasi menjelang audit, tetapi berlangsung secara konsisten dalam aktivitas operasional sehari-hari.

Effendi menekankan bahwa GRC tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai fungsi kepatuhan. GRC yang efektif dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan strategis, membantu organisasi mengambil risiko secara terukur, menjaga downside risk, menangkap peluang, meningkatkan kualitas eksekusi, serta menciptakan nilai yang berkelanjutan.

Implementasi continuous assurance dapat dilakukan melalui dua mekanisme yang saling melengkapi, yaitu Continuous Monitoring (CM) dan Continuous Auditing (CA).

Continuous Monitoring berada pada ranah manajemen dan operasional untuk mendeteksi deviasi maupun perubahan kontrol secara proaktif. Sementara itu, Continuous Auditing memberikan pengujian independen secara berkelanjutan terhadap efektivitas sistem pemantauan yang dilakukan oleh fungsi audit internal, komite audit, dan auditor eksternal.

Untuk membangun fondasi tersebut, terdapat tiga pilar utama yang perlu diperhatikan, yaitu People & Culture, Process & Control, serta Technology.

Baca Juga: Hilirisasi Ragi Nusantara Membidik Pasar Ekspor Tempe

Dari sisi manusia dan budaya, organisasi perlu membangun pola pikir bahwa kepatuhan merupakan bagian dari aktivitas operasional sehari-hari, sekaligus meningkatkan kompetensi audit berbasis data. Pada aspek proses dan kontrol, diperlukan common control matrix serta penetapan ambang batas yang jelas antara otomatisasi dan intervensi manusia.

Sementara dari sisi teknologi, pendekatan API-first architecture dan single source of truth dapat mendukung penarikan bukti secara otomatis dan penyediaan informasi mengenai kesehatan kepatuhan melalui dashboard terintegrasi.

Penerapan continuous assurance juga dapat diwujudkan melalui alur kerja otomatis. Melalui otomasi, respons terhadap risiko dapat dilakukan lebih cepat.




TERBARU

[X]
×