kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Pelaku Usaha Prediksi Tantangan Korporasi Berlanjut hingga Akhir 2026, AI Jadi Kunci


Rabu, 15 Juli 2026 / 21:44 WIB
Diperbarui Rabu, 15 Juli 2026 / 22:28 WIB
Pelaku Usaha Prediksi Tantangan Korporasi Berlanjut hingga Akhir 2026, AI Jadi Kunci
ILUSTRASI. Founder Proxsis Group Rudi Maulana (KONTAN/Leni Wandira)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelaku usaha memperkirakan dunia korporasi masih akan menghadapi berbagai tantangan hingga akhir 2026. Pelemahan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, hingga tingginya biaya operasional dinilai masih membayangi kinerja perusahaan.

Meski demikian, transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai dapat menjadi peluang baru untuk menjaga pertumbuhan bisnis.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Terapkan Program Danantara Indonesia CX100 untuk Layanan Publik

Founder Proxsis Group Rudi Maulana mengatakan, sebagian besar perusahaan masih berupaya beradaptasi dengan berbagai tantangan yang muncul sejak pandemi Covid-19 hingga gejolak ekonomi global.

"Kalau melihat kondisi klien-klien kami, memang tantangannya cukup berat. Mulai dari pandemi, konflik geopolitik, hingga tekanan ekonomi global. Bisa dibilang bukan lagi double strike, tetapi sudah triple strike," ujar Rudi di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Menurut Rudi, tekanan tersebut diperkirakan masih akan berlanjut hingga penghujung tahun. Oleh karena itu, perusahaan perlu mempercepat adaptasi melalui inovasi, efisiensi operasional, serta pemanfaatan teknologi digital.

Ia menilai kondisi saat ini justru menjadi momentum bagi korporasi untuk melakukan transformasi bisnis sehingga lebih siap ketika perekonomian membaik pada 2027.

Baca Juga: APM Sebut Pasar SUV Premium Masih Prospektif di Tengah Pergeseran Tren Konsumen

"Outlook sampai akhir tahun masih berat. Tetapi justru ini menjadi peluang bagi perusahaan untuk menyiapkan inovasi sehingga ketika kondisi membaik pada 2027 mereka sudah lebih siap," katanya.

Sebagai perusahaan konsultan, Proxsis mengaku saat ini banyak mendampingi klien dalam melakukan efisiensi biaya, menyusun ulang strategi bisnis, memperkuat pemasaran, hingga mengimplementasikan AI ke dalam proses operasional perusahaan.

Sementara itu, Co-Founder BARDI Ryan Maurice Tallulah menilai kondisi saat ini justru membuka peluang bagi perusahaan yang selama ini menjalankan bisnis dengan mematuhi regulasi.

Menurut Ryan, pengetatan pengawasan terhadap perdagangan digital dan impor membuat persaingan menjadi lebih sehat karena seluruh pelaku usaha dituntut memenuhi ketentuan yang sama.

"Saat ini adalah momentum yang baik bagi perusahaan yang selama ini comply. Dulu mungkin hanya sedikit yang memenuhi seluruh aturan, sekarang semua pelaku harus mengikuti regulasi yang sama sehingga persaingan menjadi lebih adil," ujarnya.

Baca Juga: Harga Minyak Kembali Tembus US$ 80 per Barel, Ini Dampak ke Harga BBM Hingga APBN

Meski begitu, Ryan mengingatkan pelaku usaha tidak boleh cepat berpuas diri. Momentum saat ini, menurutnya, perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan investasi dan memperkuat pangsa pasar domestik.

Ryan menilai pasar Indonesia masih menawarkan prospek pertumbuhan yang besar. Hal itu tercermin dari tingginya minat investor asing membangun fasilitas produksi di Tanah Air.

"Kalau banyak perusahaan luar datang ke Indonesia, artinya pasar domestik kita memang masih sangat menarik. Karena itu fokus kami bukan ekspor, tetapi memperkuat pasar Indonesia," katanya.

Di sisi lain, Co-Founder Proxsis & Co Roni Sulistyo Sutrisno menilai pemanfaatan AI akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing perusahaan pada masa mendatang.

Dalam paparannya bertajuk Building the AI-Preneurship Ecosystem, Roni mengatakan perkembangan teknologi Large Language Model (LLM) berlangsung sangat cepat. Karena itu, perusahaan yang mampu mengadopsi AI lebih awal berpotensi memiliki keunggulan kompetitif.

"Semakin cepat perusahaan mengadopsi AI, semakin besar peluang menjadi pemenang. Namun yang lebih penting adalah bagaimana AI selaras dengan tujuan dan dampak bisnis perusahaan," tulis Roni dalam materi presentasinya.

Baca Juga: TMMIN Perluas Program Sekolah Vokasi di Indonesia Timur

Ia mendorong setiap organisasi menyiapkan AI Champion, yakni individu yang bertugas mengakselerasi pemanfaatan AI di lingkungan perusahaan.

Menurutnya, implementasi AI juga harus memiliki sasaran bisnis yang jelas serta dapat diukur melalui tingkat pengembalian investasi (return on investment/ROI).

Roni menambahkan, AI kini tidak lagi sekadar menjadi alat bantu teknologi, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang akan menentukan kemampuan perusahaan dalam berinovasi, meningkatkan produktivitas, dan menjaga pertumbuhan di masa depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×