kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

Kapasitas Produksi LNG Terbatas, Ketenagalistrikan Didorong Manfaatkan Energi Bersih


Rabu, 16 September 2026 / 14:59 WIB
Kapasitas Produksi LNG Terbatas, Ketenagalistrikan Didorong Manfaatkan Energi Bersih
ILUSTRASI. Produksi Gas Alam (KONTAN/Daniel Prabowo)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kapasitas produksi gas alam cair (liquefied natural gas) yang terbatas di dalam negeri di tengah pertumbuhan permintaan membuat sektor seperti ketenagalistrikan dinilai perlu memanfaatkan opsi lain seperti energi bersih.

Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna menjelaskan, porsi gas untuk konsumsi domestik terus meningkat dan saat ini berada di kisaran 75%, sehingga penggunaan gas untuk kebutuhan dalam negeri akan semakin dominan ke depan.

"Memang ada lapangan gas yang berpotensi masuk, tetapi penurunan produksi jangka panjang tetap menantang tanpa eksplorasi yang signifikan," jelasnya kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga: Gandum hingga Susu Masih Impor, Industri Mamin Hadapi Risiko Rantai Pasok

Untuk itu, menurut Putra, sektor ketenagalistrikan sebagai salah satu pengguna gas perlu mengoptimalkan sumber lain seperti energi bersih sebelum memaksa ekspansi gas besar-besaran, mengingat biaya listrik LNG mahal. Ia mengingatkan sektor penggunaan gas setidaknya ada tiga, yakni pupuk, industri berat, dan listrik.

"Dengan keterbatasan kapasitas produksi dan ruang fiskal, pemerintah harus mampu memilih sektor mana yang akan jadi prioritas untuk mendapatkan dukungan fiskal," jelas Putra.

Selain harga LNG yang jauh lebih mahal dari gas pipa, Putra menyoroti, kepastian hukum dalam investasi menjadi penting. Ia menilai prospek investasi bisa terancam makin surut apabila pemerintah kerap mengintervensi para pelaku usaha secara mendadak, seperti mengendalikan harga atau melarang ekspor.

Agar keamanan produksi dalam negeri tetap terjaga, pemerintah dinilai perlu berhati-hati dalam melakukan ekspansi penggunaan gas terutama di ketenagalistrikan. 

"Dengan produksi gas pipa murah yang semakin menurun, peran LNG ke depan tidak terhindarkan. Namun harganya yang mahal berarti pemerintah harus memiliki jenjang prioritas, tidak bisa semuanya dibangun," tegas Putra.

Mengutip Instagram resmi BP BUMN, pemerintah dan Danantara mendorong Pertamina menguatkan pasokan gas dalam negeri guna mendukung ketahanan energi nasional.

Dalam pertemuan pada Kamis (10/9/2026) lalu tersebut, Pertamina menyebut kebutuhan LNG akan makin dominan setelah 2025. Bahkan, pada tahun 2029, LNG disebut akan mengisi lebih dari 50% seluruh pasokan gas nasional.

Baca Juga: Harga Bahan Baku Naik, Industri Mamin Terjepit Daya Beli

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×