kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.315.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kaya akan nikel, Indonesia jangan hanya fokus ke mobil listrik


Rabu, 06 Januari 2021 / 14:18 WIB
Kaya akan nikel, Indonesia jangan hanya fokus ke mobil listrik
ILUSTRASI. Pertambangan nikel


Sumber: TribunNews.com | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia diramalkan akan menjadi salah satu negara penghasil nikel terbesar di dunia. Potensi ini harus dimanfaatkan secara menyeluruh.

Menurut Dosen Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Bagas Pujilaksono Widyakanigara, sudah seharusnya pemerintah memikirkan nikel secara komprehensif, bukan hanya fokus ke mobil listrik.

Menurut Bagas, pemerintah harus lebih konprehensif untuk memanfaatkan sumber daya nikel yang dimiliki, jika nikel (Ni) hanya dibuat baterai untuk mobil listrik, maka hasilnya tidak seberapa dibandingkan dengan jika Ni kita bikin sebagai alloying element pada pembuatan baja tahan karat, baja untuk keperluan khusus atau Ni base superalloy.

“Hasil hitungan sederhana saya, pemerintah akan memperoleh masukan keuangan jauh lebih banyak jika membangun industri metalurgi dibandingkan battery mobil listrik. Karena, life cycle and price dari produk,” kata Bagas dalam keterangannya, Selasa (5/1).

Ia menambahkan, tidak ada satupun negara maju saat ini yang tidak memiliki industri logam dasar dan kimia dasar yang kuat.

Baca Juga: BKPM: Investasi baterai mobil listrik akan dorong ekonomi UMKM di daerah

Kedua industri tersebut adalah industri hulu yang sangat menentukan nasib industri hilir, misal otomotif, permesinan, manufaktur, konstruksi, kedokteran, farmasi, tekstil, makanan dan minuman, dan lain-lain.

“Industri metalurgi adalah industri padat modal, energi dan tenaga kerja. Perjalanan science and technology jauh lebih panjang dibandingkan mobil listrik. Jelas, industri logam dasar lebih berpengaruh positif dalam membangun peradaban bangsa Indonesia,” lanjutnya.

Bagas mencontohkan, saat Indonesia jatuh bangun akibat krisis ekonomi yang kemudian diikuti krisis keuangan, yang salah satunya diperburuk keadaannya, karena kita tidak mempunyai industri logam dasar dan kimia dasar yang kuat. “Industri hilir kita sangat tergantung bahan baku impor,” jelasnya.

Menurutnya, mobil listrik jantung hatinya ada di teknologi baterai. Sistem vehicle dan motor listrik sangat sederhana.

“Siapkah kita mengelola limbah battery-nya yang akan sangat menggunung? Apakah kita sudah punya industri recycling battery?” Ujarnya.




TERBARU
Kontan Academy
Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet Using Psychology-Based Sales Tactic to Increase Omzet

[X]
×