Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah ternyata memberikan peluang bagi industri pupuk dalam negeri. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan, saat ini banyak negara yang mengincar pasokan urea dari Indonesia.
Terkait kekhawatiran pasokan gas sebagai bahan baku pupuk, Sudaryono memastikan kondisi saat ini masih terkendali. Ia menyebut sumber gas Indonesia cukup beragam dan tidak hanya bergantung pada jalur Selat Hormuz.
"Pasokan gas ini sumbernya kan banyak ya, sumber gasnya itu nggak hanya dari sisi Selat Hormuz saja, tapi kita punya banyak sourcing, jadi so far sih nggak ada masalah," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Sudaryono menjelaskan, situasi sulit di kancah global justru membuat posisi Indonesia lebih kompetitif. Menariknya, pabrik-pabrik pupuk tua yang sebelumnya direncanakan untuk "suntik mati" karena tidak efisien, kini justru kembali bergairah untuk berproduksi.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Mendidih, Pemerintah Siap Tambah Subsidi Energi
"Tapi gara-gara perang ini hampir banyak negara itu menginginkan urea, jadi banyak negara itu kemudian ingin impor urea banyak dari tempat kita. Kita diminta untuk ekspor banyak urea ke banyak negara, minta at any cost, at any price dari urea," jelasnya.
Menurutnya, ini menjadi kesempatan emas bagi industri pupuk nasional di tengah krisis. Permintaan yang datang dengan harga kompetitif memungkinkan pabrik lama beroperasi kembali sembari menunggu proses pembangunan pabrik baru yang lebih modern dan efisien.
Meski permintaan ekspor melonjak tajam, Sudaryono menjamin bahwa kebutuhan petani di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah memastikan tidak ada skema Domestic Market Obligation (DMO) karena kewajiban pemenuhan domestik sudah mutlak dilakukan sebelum melirik pasar luar negeri.
Baca Juga: Ajinomoto Perkuat Inisiatif Hijau, Kurangi Penggunaan Plastik 1.736 Ton pada 2025
"Kewajiban kita harus penuhi domestik dulu, nggak ada karena untuk ekspor, kemudian DMO nggak ada, kita penuhi dulu dalam negeri. Nah, potensi ekspor itu kita genjot dari pabrik-pabrik tua kita yang tadinya mau kita suntik mati kita hidupin lagi," tegasnya.
Adapun negara-negara yang menaruh minat besar pada urea Indonesia mencakup beberapa negara di kawasan tetangga hingga mancanegara lainnya. Sudaryono menyebut Indonesia merupakan salah satu pemain besar dalam industri ini.
"Ada beberapa negara lah, ada Australia ada mana-mana gitu, banyak lah yang juga minta, karena kita kan salah satu produksi urea terbesar di dunia ya," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













