kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Kecerdasan Buatan Bukan Sekadar Teknologi, tapi Penentu Nilai Suatu Perusahaan


Sabtu, 17 Januari 2026 / 11:50 WIB
Kecerdasan Buatan Bukan Sekadar Teknologi, tapi Penentu Nilai Suatu Perusahaan
ILUSTRASI. AI dan Token (Show/Show)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Di era kecerdasan buatan (AI), reputasi perusahaan tak lagi sekadar persepsi abstrak, melainkan aset ekonomi yang nilainya dapat dihitung dan diproyeksikan. Studi terbaru Burson menunjukkan, cara perusahaan mengelola AI, kini menjadi faktor krusial yang menentukan nilai reputasi sekaligus kinerja finansial jangka panjang.

Studi tersebut mengungkap, perusahaan dengan reputasi kuat mampu menghasilkan tambahan laba tahunan bagi pemegang saham rata-rata sebesar 4,78%. Secara global, hal ini membentuk apa yang disebut sebagai Ekonomi Reputasi dengan nilai mencapai US$ 7,07 triliun.

Dalam sampel perusahaan yang dianalisis, “laba reputasitercatat menambah nilai mulai dari US$ 2 juta hingga US$ 202 miliar. Melampaui estimasi berbasis indikator keuangan konvensional.

Jika dikelola dengan tepat, reputasi dapat menghasilkan miliaran dolar secara terukur, memperkuat ketahanan perusahaan, dan memberi keyakinan bagi pemimpin untuk mengambil keputusan strategis, termasuk di era AI,”  papar Corey duBrowa, CEO Global Burson, dalam keterangan resmi, Jumat (16/1).

Baca Juga: Satgas Cs-137: Walmart Siap Dukung Pemulihan Reputasi Produk Indonesia di Pasar AS

Tempat kerja sebagai medan persaingan paling krusial di tengah adopsi AI. Meski kontribusinya hanya 11% dari delapan faktor pembentuk reputasi, kualitas lingkungan kerja menciptakan kesenjangan reputasi hingga 11,8% antara perusahaan dengan kinerja terbaik dan terburuk.

"Investasi pada pelatihan ulang dan kolaborasi manusia–AI akan memperkuat reputasi, sementara penggunaan AI semata untuk memangkas tenaga kerja justru menciptakan reputation tax,” ungkap Matt Reid, Global Corporate and Public Affairs Lead Burson.

Sektor keuangan menghadapi tekanan reputasi signifikan. Penurunan pada aspek kepemimpinan, tata kelola, dan kontribusi sosial menempatkan sekitar US$ 4,3 miliar nilai reputasi dalam risiko langsung. Ini setara 38% dari total nilai reputasi sektor tersebut.

Selanjutnya: Cegah Gangguan Imbas Aktivitas Militer, FAA Rilis Peringatan Terbang di Amerika Latin

Menarik Dibaca: Wajib Tahu! Ini 6 Ikan untuk Ibu Hamil yang Rendah Merkuri Aman Bagi Janin

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×