kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 17.886   -25,00   -0,14%
  • IDX 6.147   -46,20   -0,75%
  • KOMPAS100 792   -4,39   -0,55%
  • LQ45 606   -2,44   -0,40%
  • ISSI 215   -2,60   -1,20%
  • IDX30 336   -1,40   -0,42%
  • IDXHIDIV20 430   -1,07   -0,25%
  • IDX80 90   -0,46   -0,51%
  • IDXV30 117   -0,72   -0,61%
  • IDXQ30 110   -0,12   -0,11%

Kemenkomdigi Matangkan Kajian Kebutuhan Pengembangan Proyek Satelit SATRIA-2


Rabu, 10 Desember 2025 / 14:03 WIB
Kemenkomdigi Matangkan Kajian Kebutuhan Pengembangan Proyek Satelit SATRIA-2
ILUSTRASI. Pemerintah telah membangun proyek Satelit Multifungsi Pemerintah (SATRIA 1) di 30.017 titik layanan publik di seluruh Indonesia, termasuk sekolah, puskesmas, fasilitas pemerintahan, dan titik pertahanan-keamanan dengan kecepatan internet up to 10 Mbps/lokasi. Selain itu, Infrastruktur pendukung proyek SATRIA 1 dilengkapi dengan 11 gateway yang tersebar di Batam, Pontianak, Banjarmasin, Cikarang, Manado, Ambon, Kupang, Manokwari, Timika, Jayapura, dan Tarakan


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – KARAWANG. Kementerian Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) tengah menyiapkan proyek Satelit Republik Indonesia 2 atau Satelit SATRIA-2.

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kemenkomdigi Fadhilah Mathar menyampaikan, proyek SATRIA-2 telah masuk ke Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Untuk SATRIA-2 sebenarnya itu hanya penamaan. Tetapi penamaan ini intinya kami masih memerlukan kapasitas satelit,” tutur Fadhilah dalam Kunjungan Kerja Media, Rabu (10/12/2025).

Baca Juga: Tarif Penerbangan Kualanamu–Rembele Dikeluhkan, Ini Penjelasan Kemenhub

Fadhilah menjelaskan Indonesia tetap membutuhkan tambahan kapasitas satelit untuk mendukung perluasan layanan telekomunikasi nasional. Namun, ia menekankan teknologi yang digunakan pada SATRIA-2 belum tentu sama dengan SATRIA-1, karena perkembangan teknologi satelit berlangsung cepat.

Menurut dia, tahap yang paling krusial saat ini adalah melakukan demand analysis atau analisis kebutuhan secara komprehensif. Analisis ini harus benar-benar akurat dan valid agar rencana kapasitas satelit sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.

“Baru kemudian kami akan melangkah untuk kelanjutan-kelanjutan terkait misalnya apakah ini nanti menggunakan skema KPBU atau pembiayaan lainnya,” ungkapnya.

Sebagai gambaran, target pengadaan satelit pemerintah itu membutuhkan anggaran mencapai US$ 680 juta atau setara dengan Rp 13,3 triliun.

Jika dibandingkan dengan biaya proyek Satelit Satria 1 yang menelan biaya US$ 540 juta atau Rp 8,3 triliun, tentu Satelit Satria 2 memang lebih banyak memakan biaya.

Baca Juga: Produk Pangan UMKM Raup Potensi Transaksi Rp 91,40 Miliar di Arab Saudi

Namun perbedaannya dengan Satelit SATRIA 1 yang kapasitasnya 150GB, kapasitas Satelit SATRIA 2 mencapai 300 GB.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×