kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Kemenkomdigi Matangkan Kajian Kebutuhan Pengembangan Proyek Satelit SATRIA-2


Rabu, 10 Desember 2025 / 14:03 WIB
Kemenkomdigi Matangkan Kajian Kebutuhan Pengembangan Proyek Satelit SATRIA-2
ILUSTRASI. Pemerintah telah membangun proyek Satelit Multifungsi Pemerintah (SATRIA 1) di 30.017 titik layanan publik di seluruh Indonesia, termasuk sekolah, puskesmas, fasilitas pemerintahan, dan titik pertahanan-keamanan dengan kecepatan internet up to 10 Mbps/lokasi. Selain itu, Infrastruktur pendukung proyek SATRIA 1 dilengkapi dengan 11 gateway yang tersebar di Batam, Pontianak, Banjarmasin, Cikarang, Manado, Ambon, Kupang, Manokwari, Timika, Jayapura, dan Tarakan


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – KARAWANG. Kementerian Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) tengah menyiapkan proyek Satelit Republik Indonesia 2 atau Satelit SATRIA-2.

Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kemenkomdigi Fadhilah Mathar menyampaikan, proyek SATRIA-2 telah masuk ke Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Untuk SATRIA-2 sebenarnya itu hanya penamaan. Tetapi penamaan ini intinya kami masih memerlukan kapasitas satelit,” tutur Fadhilah dalam Kunjungan Kerja Media, Rabu (10/12/2025).

Baca Juga: Tarif Penerbangan Kualanamu–Rembele Dikeluhkan, Ini Penjelasan Kemenhub

Fadhilah menjelaskan Indonesia tetap membutuhkan tambahan kapasitas satelit untuk mendukung perluasan layanan telekomunikasi nasional. Namun, ia menekankan teknologi yang digunakan pada SATRIA-2 belum tentu sama dengan SATRIA-1, karena perkembangan teknologi satelit berlangsung cepat.

Menurut dia, tahap yang paling krusial saat ini adalah melakukan demand analysis atau analisis kebutuhan secara komprehensif. Analisis ini harus benar-benar akurat dan valid agar rencana kapasitas satelit sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.

“Baru kemudian kami akan melangkah untuk kelanjutan-kelanjutan terkait misalnya apakah ini nanti menggunakan skema KPBU atau pembiayaan lainnya,” ungkapnya.

Sebagai gambaran, target pengadaan satelit pemerintah itu membutuhkan anggaran mencapai US$ 680 juta atau setara dengan Rp 13,3 triliun.

Jika dibandingkan dengan biaya proyek Satelit Satria 1 yang menelan biaya US$ 540 juta atau Rp 8,3 triliun, tentu Satelit Satria 2 memang lebih banyak memakan biaya.

Baca Juga: Produk Pangan UMKM Raup Potensi Transaksi Rp 91,40 Miliar di Arab Saudi

Namun perbedaannya dengan Satelit SATRIA 1 yang kapasitasnya 150GB, kapasitas Satelit SATRIA 2 mencapai 300 GB.

Selanjutnya: Mau Investasi Reksadana? Pahami Cara Memilih yang Benar Sesuai Profil Risiko Anda

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Noodle Fair 1-15 Desember 2025, Beli 2 Gratis 1 Nong Shim Ramyun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×