Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yakin Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bisa menjadi indikator yang akurat memotret persepsi pelaku industri terhadap kondisi sektor manufaktur Indonesia.
Kemenperin mengklaim, IKI lebih akurat dibandingkan dengan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang dirilis oleh S&P Global.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief mengatakan bahwa survei dan analisa IKI menjangkau responden yang lebih luas dengan melibatkan sekitar 2.500 – 3.000 perusahaan industri. IKI mencakup 23 sub sektor manufaktur atau industri pengolahan non-migas.
Febri membandingkan dengan PMI Manufaktur yang hanya mengambil sampel sekitar 500 perusahaan. Febri pun mengklaim IKI mampu merepresentasikan kondisi dan persepsi pelaku industri di Indonesia, bahkan lebih akurat dibandingkan dengan PMI Manufaktur.
"Menurut statistik, semakin banyak sampel, penafsiran semakin akurat. Dengan demikian, kami meyakini bahwa IKI lebih kuat dan lebih akurat dibandingkan dengan PMI," kata Febri dalam konferensi pers IKI di Kantor Kemenperin, Kamis (28/8).
Baca Juga: Sektor Manufaktur Masih Ekspansi, Indeks Kepercayaan Industri Agustus Naik ke 53,55
Febri menambahkan, hasil IKI yang memotret industri manufaktur berada di zona ekspansi juga sejalan dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Pada triwulan II-2025, BPS mencatat industri pengolahan non migas mengalami pertumbuhan 5,60% secara tahunan.
“Hasil IKI pun sejalan dengan data pertumbuhan industri yang dirilis oleh BPS, sehingga dapat menjadi acuan valid dalam menilai kondisi aktual sektor manufaktur nasional,” ungkap Febri.
Sebagai informasi, Kemenperin meluncurkan IKI pada November 2022 sebagai indikator tingkat optimisme industri manufaktur terhadap kondisi perekonomian. Penyusunan IKI dilakukan berdasarkan pada kegiatan pelaporan perusahaan industri melalui portal Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).
Catatan Febri, indikator yang digambarkan dalam IKI, PMI Manufaktur maupun Prompt Manufacturing Index-Bank Indonesia (PMI-BI) merupakan indikasi awal untuk memprediksi kondisi dan pertumbuhan sektor manufaktur.
"Jadi kalau pertumbuhan manufaktur di atas 0%, nah itu sebenarnya sudah bisa ditunjukan oleh IKI atau PMI ekpansi, di atas 50," terang Febri.
IKI vs PMI Manufaktur
IKI seringkali berbeda arah dengan PMI Manufaktur. Setidaknya dalam empat bulan terakhir, PMI Manufaktur menunjukkan sektor industri sedang mengalami kontraksi dari April hingga Juli 2025, dengan bergerak dari posisi 46,7, 47,4, 46,9 dan 49,2.
Sementara itu, IKI melenggang di zona ekspansi atau konsisten di atas 50 poin dalam lima bulan terakhir. Dari April hingga Juli 2025, nilai IKI masing-masing berada di posisi 51,90, 52,11, 51,84 dan 52,89.
Baca Juga: Industri TPT Belum Rasakan Kenaikan Indeks Manufaktur, Tunggu Efek Aturan Impor Baru
Lanjut ke bulan Agustus 2025, Kemenperin mencatat IKI Agustus 2025 berada di level 53,55. Meningkat 0,66 poin dibandingkan Juli 2025 dan melonjak 1,15 poin ketimbang IKI Agustus 2024.
Febri menerangkan, nilai IKI dibentuk oleh tiga variabel, yakni pesanan baru, persediaan produk, dan produksi. Pada bulan Agustus 2025, nilai IKI variabel pesanan baru melonjak 2,98 poin dari bulan sebelumnya ke posisi 57,38.
Variabel persediaan produk juga mengalami ekspansi dengan lonjakan 2,05 poin atau mencapai 57,04. Berbeda arah dengan variabel produksi yang masih mengalami kontraksi, anjlok 4,15 poin ke level 44,84.
Kenaikan variabel pesanan baru menandakan bahwa permintaan atas produk industri manufaktur Indonesia mengalami kenaikan. Kondisi ini juga tergambar dari IKI Ekspor bulan Agustus 2025 yang meningkat 0,76 poin secara bulanan ke level 54,11.
IKI Domestik juga naik sebanyak 0,48 poin ke posisi 52,64. "Artinya demand atas produk manufaktur Indonesia baik permintaan ekspor maupun domestik itu tinggi," kata Febri.
Sementara itu, kenaikan variabel persediaan produk menandakan ketersediaan barang di gudang atau stok mengalami peningkatan. Penumpukan stok merupakan hasil dari produksi barang industri manufaktur pada bulan-bulan sebelumnya.
"Kalau permintaan naik, dari mana industri memenuhinya? sementara dari produk yang menumpuk di gudang. Jadi produk yang diproduksi sebelumnya masih banyak, itu yang digunakan untuk memenuhi permintaan domestik dan ekspor yang naik," terang Febri.
Baca Juga: Pelaku Industri Manufaktur Ungkap Tantangan Ekspor & Pasar Domestik di Semester II
Soal kontraksi variabel produksi, Febri mengatakan kondisi ini terjadi akibat sejumlah pelaku industri menahan tingkat produksi. Lantaran masih memasang sikap wait and see mencermati dinamika ekonomi di dalam negeri maupun faktor global, termasuk dampak dari kesepakatan tarif dagang dan gejolak geo politik.
Febri lantas merujuk data dari BPS yang menunjukkan bahwa impor bahan baku cenderung stagnan. Begitu juga untuk pembelian bahan baku dari domestik.
Selain itu, faktor lainnya adalah kendala dari sisi pasokan gas industri yang sempat tersendat, terutama bagi industri pengguna Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). "Karena pasokan gas kemarin sempat tidak stabil, membuat industri pengguna gas deg-degan," ungkap Febri.
Catatan Pelaku Industri
Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Yustinus Gunawan mengamini, kepastian pasokan dan harga gas bumi menjadi tantangan utama bagi pelaku industri. Yustinus yang juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) meminta agar tidak ada lagi pemangkasan pasokan gas.
Dengan begitu, utilisasi produksi bisa tetap terjaga, dan pelaku industri bisa memenuhi permintaan pasar atau kontrak dengan pembeli. "Pemenuhan komitmen terhadap kontrak adalah keniscayaan untuk kelangsungan industri," kata Yustinus saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (28/8/2025).
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmad Basuki menimpali, industri komponen otomotif masih dalam tekanan. Lonjakan impor mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) secara utuh memperkeruh kondisi industri komponen otomotif yang sudah tertekan oleh tren penurunan penjualan kendaraan.
"Kalau yang dirasakan secara umum supply industri komponen otomotif ke pabrik mobil menurun. Mungkin yang ekspor dan yang supply ke roda dua masih agak mendingan," kata Rachmad.
Tekanan juga masih menjepit industri Tekstik dan Produk Tekstil (TPT). Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan pelaku industri terjepit oleh penurunan permintaan dan banjir barang impor, masalah klastik yang tak kunjung teratasi.
Tak hanya di sisi hulu, sektor antara sampai ke hilir juga terjepit masalah serupa. "Mungkin sektor manufaktur lain masih optimistis. Kalau di sektor TPT khususnya di hulu, didominasi oleh pesimisme. Informasi yang masuk kepada kami, sektor antara sampai hilir kondisinya sama," kata Redma.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda turut melihat sederet pekerjaan rumah untuk kembali menggairahkan industri manufaktur nasional. Salah satunya untuk mengerek utilisasi produksi yang saat ini rata-rata masih berada di level 70%.
"Bahkan beberapa perusahaan utilitasi produksi hanya di angka 50%. Terkait dengan kondisi industri manufaktur Indonesia, seperti data PMI Manufaktur, masih belum terjadi ekspansi," kata Nailul.
Baca Juga: Indeks Manufaktur BI Kuartal II 2025 di Level 50,89, Industri Pengolahan Stabil
Dia mengingatkan, PMI Manufaktur yang dirilis S&P masih menjadi rujukan bagi stakeholders di bidang ekonomi dan industri, termasuk investor luar negeri. "Mereka akan lebih percaya pada lembaga independen dan mempunyai pengukuran yang terstandarisasi dengan negara lain juga," imbuhnya.
Nailul memberi catatan, akurasi survei tidak hanya ditentukan dari besarnya jumlah sampel. Ada banyak variabel lain, termasuk independensi dari pihak yang melakukan survei turut menjadi faktor penting.
"Jika ditanyakan oleh pemerintah terkait keyakinan industri, perusahaan cenderung akan menjawab “baik”. Jadi bukan hanya soal sampel. Keyakinan hasil pendataan itu juga dilihat dari “siapa” yang survei. Jika dilakukan oleh tim independen, hasilnya lebih valid," ujar Nailul.
Sementara itu, Yustinus menilai PMI Manufaktur maupun IKI bisa menjadi rujukan untuk memotret kondisi industri dan referensi untuk meneropong proyeksi ke depan. "Keduanya bisa saling mengisi," tandas Yustinus.
Selanjutnya: Banyak Wamen Rangkap Jabatan Di Pertamina, Kapan Dicopot? Simak Kata Menteri BUMN
Menarik Dibaca: Promo Pepper Lunch Boga Anniversary, 3 Creamy Garlic Butter Steak Harga Spesial
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News