kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.680   99,00   0,56%
  • IDX 6.599   -124,08   -1,85%
  • KOMPAS100 874   -18,96   -2,12%
  • LQ45 651   -6,79   -1,03%
  • ISSI 238   -4,84   -1,99%
  • IDX30 369   -2,15   -0,58%
  • IDXHIDIV20 456   0,25   0,05%
  • IDX80 100   -1,80   -1,77%
  • IDXV30 128   -1,20   -0,93%
  • IDXQ30 119   -0,20   -0,17%

Kementerian ESDM targetkan investasi EBT mencapai US$ 17,93 miliar hingga 2025


Jumat, 31 Januari 2020 / 17:22 WIB
ILUSTRASI. Foto udara kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (29/8/2019). Kementerian ESDM targetkan investasi EBT dalam lima tahun ke depan mencapai US$ 17,93 miliar. ANTARA FOTO/Ahmad Subai


Reporter: Dimas Andi | Editor: Tendi Mahadi

Harris menjelaskan, saat ini nilai keekonomian pembangkit EBT sangat tergantung pada jenis teknologi, jumlah kapasitas terpasang, dan lokasi pembangunannya.

Sebagai contoh, biaya pokok penyediaan (BPP) di kawasan Jawa, Madura, dan Bali kini sudah di bawah US$ 7 sen. Maka dari itu, pengembangan EBT berupa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar akan sangat kompetitif di wilayah tersebut.

“Khusus PLTS skala besar, harga listriknya dapat jauh lebih murah dibandingkan PLTU batubara Indonesia,” terang dia.

Baca Juga: Ini kata SKK Migas soal penyaluran kembali gas Lapangan Kepodang

Ia melanjutkan, wilayah atau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar Indonesia masih kerap memanfaatkan pembangkit listrik berbasis tenaga disel.

Di kawasan tersebut, pemanfaatan EBT akan sangat kompetitif dan memiliki nilai ekonomis jika pembangkit yang dipasang berbasis energi hidro, geothermal, angin, surya, biomassa, dan biogas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×