kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Kementerian ESDM targetkan investasi EBT mencapai US$ 17,93 miliar hingga 2025


Jumat, 31 Januari 2020 / 17:22 WIB
ILUSTRASI. Foto udara kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (29/8/2019). Kementerian ESDM targetkan investasi EBT dalam lima tahun ke depan mencapai US$ 17,93 miliar. ANTARA FOTO/Ahmad Subai


Reporter: Dimas Andi | Editor: Tendi Mahadi

Harris menjelaskan, saat ini nilai keekonomian pembangkit EBT sangat tergantung pada jenis teknologi, jumlah kapasitas terpasang, dan lokasi pembangunannya.

Sebagai contoh, biaya pokok penyediaan (BPP) di kawasan Jawa, Madura, dan Bali kini sudah di bawah US$ 7 sen. Maka dari itu, pengembangan EBT berupa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar akan sangat kompetitif di wilayah tersebut.

“Khusus PLTS skala besar, harga listriknya dapat jauh lebih murah dibandingkan PLTU batubara Indonesia,” terang dia.

Baca Juga: Ini kata SKK Migas soal penyaluran kembali gas Lapangan Kepodang

Ia melanjutkan, wilayah atau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar Indonesia masih kerap memanfaatkan pembangkit listrik berbasis tenaga disel.

Di kawasan tersebut, pemanfaatan EBT akan sangat kompetitif dan memiliki nilai ekonomis jika pembangkit yang dipasang berbasis energi hidro, geothermal, angin, surya, biomassa, dan biogas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×