kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.461.000   0   0,00%
  • USD/IDR 15.130   40,00   0,26%
  • IDX 7.697   -47,60   -0,61%
  • KOMPAS100 1.196   -13,16   -1,09%
  • LQ45 960   -10,60   -1,09%
  • ISSI 231   -1,75   -0,75%
  • IDX30 493   -3,97   -0,80%
  • IDXHIDIV20 592   -5,69   -0,95%
  • IDX80 136   -1,30   -0,95%
  • IDXV30 143   0,32   0,23%
  • IDXQ30 164   -1,28   -0,77%

Kementerian ESDM Targetkan Penerapan Biodiesel B40 pada Tahun 2025


Rabu, 26 Juni 2024 / 15:43 WIB
Kementerian ESDM Targetkan Penerapan Biodiesel B40 pada Tahun 2025
ILUSTRASI. Kementerian ESDM menargetkan program mandatori biodiesel B40 diterapkan pada tahun 2025.


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan program mandatori biodiesel B40, yaitu bauran solar dengan 40% bahan bakar nabati (BNN) berbasis minyak sawit, akan diterapkan pada tahun 2025.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menyatakan bahwa saat ini B40 masih dalam tahap uji coba pada mesin non-otomotif setelah sebelumnya dilakukan uji coba pada mesin otomotif.

"Ya, B40 itu sudah sesuai jadwal. Uji coba untuk otomotif sudah selesai. Sekarang sedang dilakukan uji coba pada mesin non-otomotif yang diharapkan selesai sampai dengan Desember," ujar Eniya saat ditemui di Kompleks DPR, Selasa (25/6).

Baca Juga: Dorong Hilirisasi, Kemenperin Susun Peta Jalan Industri Sawit Indonesia Emas 2045

Eniya menjelaskan bahwa ESDM telah menganalisis kapan B40 akan siap diterapkan di tanah air. Analisis tersebut dilakukan setelah adanya serangkaian tes seperti sinkronisasi hingga peningkatan kapasitas produksi.

Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi

"Nah, mungkin jika semua berjalan lancar, paling cepat pertengahan 2025. Jika semuanya dipersiapkan dengan baik," tuturnya.

Kementerian ESDM memproyeksikan stok minimal minyak kelapa sawit mentah (CPO) untuk mendukung program Biodiesel B40 sekitar 17,57 juta kiloliter. Angka ini berasal dari asumsi kebutuhan solar tahun 2024 sebesar 38,04 juta kiloliter.

Dengan asumsi pertumbuhan rata-rata produk domestik bruto (PDB) sebesar 5%, maka penyaluran B40 memerlukan stok CPO domestik sekitar 17,57 juta kiloliter atau sekitar 15,29 juta ton CPO.

Catatan Kontan menunjukkan bahwa kesiapan stok CPO untuk program B40 perlu mempertimbangkan juga produksi CPO tahunan, kebutuhan ekspor, serta kebutuhan untuk pangan dan pakan dalam negeri.

Baca Juga: Pasokan CPO Belum Bisa Mencukupi Mandatori B50

"Adapun kebutuhan demand solar tahun 2024 adalah sebesar 38,04 juta KL. Jika diasumsikan terjadi kenaikan 5% akibat pertumbuhan rata-rata PDB Indonesia sebesar 5%, maka untuk penyaluran B40 diperlukan stok CPO domestik sekitar 17,57 juta KL atau sekitar 15,29 juta ton CPO," kata Eniya saat dihubungi KONTAN, Senin (29/4).

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, menyatakan bahwa program Biodiesel berpotensi meningkatkan harga CPO di pasar internasional, yang akan menguntungkan Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah harus memastikan pasokan CPO domestik yang cukup untuk menjaga harga agar tidak melambung saat program diterapkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×