kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45729,74   -6,98   -0.95%
  • EMAS963.000 3,44%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Kementerian ESDM tekankan peningkatan nilai tambah atas pengelolaan SDA di Indonesia


Minggu, 05 Januari 2020 / 14:55 WIB
Kementerian ESDM tekankan peningkatan nilai tambah atas pengelolaan SDA di Indonesia
ILUSTRASI. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif .

Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berupaya mendorong agar pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang ada di Indonesia bisa memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.

Menteri ESDM Arifin Tasrif menyatakan, peningkatan nilai tambah dari SDA menjadi misi yang diembannya selama memimpin Kementerian ESDM. Dengan peningkatan nilai tambah, Kementerian ESDM akan berkontribusi dalam pertumbuhan devisa negara sehingga dapat menopang laju pertumbuhan ekonomi.

“Devisa akan meningkat dan menunjang program-program pertumbuhan ekonomi. Kita juga bisa membangun infrastruktur dengan baik melalui modal itu sesuai arahan presiden,” ungkap dia dikutip dari siaran pers di situs Kementerian ESDM, Sabtu (4/1).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa selama ini SDA di Indonesia lebih banyak dimanfaatkan sebatas komoditas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Padahal, kondisi tersebut tak mampu berperan besar dalam melanjutkan transformasi pembangunan negara secara keseluruhan.

Baca Juga: ESDM memutuskan tidak ada kenaikan tarif listrik di kuartal pertama

Menurut Arifin, Indonesia memiliki banyak sumber daya alam, mineral, hingga energi yang sayangnya belum terkelola dengan baik. “Belum memberikan nilai tambah yang optimal bagi kita semua. Kita lebih memanfaatkan untuk PNBP,” jelasnya.

Saat ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo, Arifin mengaku pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi dari sektor SDA menjadi fokus utama.

Sebagai informasi, Indonesia memiliki potensi SDA yang sangat melimpah. Di subsector migas, cadangan minyak Indonesia saat ini mencapai 3,8 miliar barel. Lalu, dari sisa 74 cekungan yang belum dieksplorasi, terdapat potensi minyak sebesar 7,5 miliar barel.

Selain itu, Indonesia memiliki cadangan gas sebesar 135,55 trillion standard cubic feet (TSCF), Cadangan gas ini tersebar di berbagai lokasi dengan pembagian P1 atau terbukti sebanyak 99,06 TSCF, lalu P2 atau cadangan potensi sebesar 21,26 TSCF, serta P3 atau cadangan harapan sebesar 18,23 TSCF.

Di subsektor energi baru dan terbarukan (EBT), Indonesia punya potensi panas bumi sebesar 11 GW, angin sebesar 60,6 GW, bioenergy sebesar 32,6 GW, air dan mikrohidro sebesar 94,3 GW, surya sebesar 207,8 GWp, serta laut sebesar 17,9 GW. Secara total, Indonesia memiliki 442 GW potensi EBT namun baru diutilisasi sebesar 2,1% atau setara 9 GW.

Sementara itu, di subsektor minerba, cadangan batubara terbukti kini menyentuh 39,89 miliar ton. Adapun cadangan komoditas tembaga tercatat sebesar 2,76 miliar ton. Jumlah tersebut sama dengan cadangan produksi bijih selama 39 tahun.

Sedangkan cadangan komoditas nikel tercatat sebanyak 3,57 miliar ton dengan produksi tambang per tahun 17 juta ton bijih. Umur cadangan berdasarkan produksi bijih diperkirakan 184 tahun.

Baca Juga: Menurun, PNBP sektor minerba sentuh Rp 45,02 triliun di 2019

Selanjutnya, Indonesia memiliki cadangan logam besi sebesar 3 miliar ton dengan produksi bijih besi dan pasir besi 3,9 juta ton per tahun serta konsentrat besi 3,1 juta ton. Umur cadangan berdasarkan produksi bijih diperkirakan mencapai 769 tahun.

Di sisi lain, cadangan bauksit di Indonesia tercatat sebanyak 2,4 miliar ton dengan umur cadangan 422 tahun. Komoditas emas memiliki cadangan hingga 1.132 Au dengan umur cadangan 28 tahun. Sementara perak memiliki cadangan 171.499 ton Ag dengan umur cadangan 1.143 tahun. Adapun timah memiliki cadangan 1,5 juta ton Sn dan umur cadangan 21 tahun.




TERBARU

Close [X]
×