Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penurunan harga minyak mentah dunia jenis Brent yang dipicu oleh meredanya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuka ruang bagi evaluasi harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, memproyeksikan harga jual BBM nonsubsidi di dalam negeri berpotensi mengalami penurunan pada bulan Juli mendatang.
Hadi menjelaskan, pergerakan harga komoditas energi di pasar domestik sangat bergantung pada fluktuasi harga minyak mentah di pasar global. Menurutnya, formulasinya sudah baku di mana harga produk jadi akan mengekor pergerakan bahan bakunya.
Baca Juga: Produk Teh PTPN I Ekspansi ke Inggris, Bidik Pasar Premium Global
"Harga BBM non subsidi berbanding lurus dengan harga crude internasional. Jika crude internasional naik, BBM seharusnya bisa naik, demikian sebaliknya," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (22/6/2026).
Meski demikian, Hadi mengingatkan, penyesuaian harga jual di SPBU tidak bisa dilakukan secara serta-merta melainkan harus mengikuti siklus bulanan yang ditetapkan pemerintah. Hal ini dikarenakan acuan yang digunakan dalam penghitungan harga keekonomian diterbitkan secara berkala setiap bulan.
"Namun perlu diingat bahwa kenaikan itu harus monthly basis sesuai dengan patokan ICP yang dikeluarkan setiap bulan sekali dan jangan bersifat harian atau mingguan karena dasar ICP sebulan sekali keluar," jelasnya.
Hadi memaparkan, merosotnya harga minyak ke level US$ 83 per barel dari posisi sebelumnya yang sempat menyentuh US$ 95 per barel menjadi katalis positif. Redamnya konflik dua negara besar tersebut diyakini akan menormalkan kembali pasokan minyak mentah dunia.
"Penurunan crude brent dari US$ 95/bbl sekarang menjadi sekitar US$ 83/bbl sangat signifikan dipicu oleh Nota Perdamaian Iran vs USA. Antara lain akan merelease blokade di kedua belah pihak. Dalam jangka menengah akan kembali normal ke sekitar US$ 60-US$ 70/bbl," imbuhnya.
Melihat tren penurunan tersebut, peluang bagi Pertamina maupun badan usaha penyalur BBM lainnya untuk memangkas harga jual produk nonsubsidi, seperti Pertamax, terbuka lebar. Untuk bulan Juni ini, rata-rata harga minyak keekonomian memang masih tinggi karena terpengaruh posisi Brent dan kurs rupiah.
"Sangat bisa. Kalau harga minyak kembali ke angka normal. Untuk bulan Juni rata rata Brent masih relatif tinggi sekitar US$ 95/bbl sehingga harga keekonomian adalah sekitar Rp 17.400 jika kurs sekitar Rp 17.500 dan yield 0.6. Jika rata rata crude jatuh di angka 70$/bbl. Maka kemungkinan Pertamax di angka Rp 12.800," ungkap Hadi.
Hadi menambahkan, realisasi penurunan harga BBM nonsubsidi di bulan Juli nanti masih harus menunggu rilis resmi angka Indonesian Crude Price (ICP) dari Kementerian ESDM. Angka rata-rata ICP bulan Juni baru akan dikeluarkan pada pekan pertama bulan berikutnya.
"Sekali lagi bahwa ICP = Brent + US$ 2/bbl. Dan ICP dikeluarkan Pemerintah awal bulan minggu pertama untuk ICP rata-rata bulan sebelumnya. Misalnya rata-rata bulan Juni akan keluar sekitar tanggal 10 Bulan Juli," pungkasnya.
Baca Juga: AirAsia Percepat Pemulihan Kapasitas, Target Operasi Penuh Agustus 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













