Reporter: Filemon Agung | Editor: Noverius Laoli
Sementara itu, kepadatan maupun kapasitas energi kedua jenis baterai umumnya berbeda.
Tingkat kepadatan dari LFP dinilai lebih rendah. Jika kemudian teknologi LFP ingin meningkatkan kapasitasnya maka volumenya juga akan bertambah. Cara ini dinilai tidak cocok diaplikasikan pada kendaraan high end.
"Bayangkan kamu pakai mobil yang mahal (tapi) habis beratnya sama baterai, ya gak cocok," jelas Agus.
Agus menjelaskan, untuk kendaraan listrik yang mahal atau high-end maka sebaiknya memang menggunakan teknologi baterai yang mahal seperti NMC karena dapat menghemat ruang dan lebih ringan.
Baca Juga: Dirut PLN Beberkan Strategi PLN Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik
Sementara itu, jenis kendaraan murah atau low-end dan armada transportasi seperti truk maupun bus dapat menggunakan teknologi LFP.
Dari segi usia penggunaan, LFP dinilai lebih unggul ketimbang NMC, salah satu faktornya yakni tingkat serapan atau konsumsi energi LFP yang lebih rendah.
Meskipun dari sisi harga teknologi NMC masih lebih mahal, tren penurunan harga dinilai terus terjadi.
Baca Juga: Airlangga Hartarto Klaim Indonesia Dilirik Banyak Produsen Mobil Listrik Global
Agus pun menegaskan, dalam pembangunan pabrik baterai diperlukan pabrik dengan skala internasional dengan investasi yang juga tergolong besar.
"Pabrik baterai itu gak bisa hanya skala negara, entah itu LFP atau NMC itu (harus) skala internasional. Jika kita membatasi harus pakai NMC karena kita punya NMC, (nanti) orang kabur," kata Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News