Reporter: Hervin Jumar | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komisi VI DPR RI mendorong PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melakukan pembenahan menyeluruh terhadap layanan KRL Jabodetabek yang saat ini menghadapi tekanan kapasitas akibat tingginya jumlah penumpang pada jam sibuk.
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB Nasim Khan mengatakan, permasalahan KRL Jabodetabek tidak hanya terkait kepadatan penumpang, tetapi juga kondisi armada yang sudah berusia tua dan membutuhkan peremajaan secara bertahap.
Baca Juga: Bidik Potensi Migas hingga UMKM, Sucofindo Buka Kantor Pemasaran di Banda Aceh
“Kita tidak bisa bohongin. Pak Bobby seperti disampaikan tadi, armada kita mungkin sudah lebih tua dari kita. Sangat tua sekali,” ujar Nasim dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan KAI di Gedung Parlemen, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, KAI perlu menyiapkan perencanaan yang lebih serius terkait pembaruan armada sekaligus memperkuat industri perkeretaapian nasional agar kebutuhan sarana tidak terus bergantung pada pengadaan dari luar negeri.
Selain itu, Nasim juga menyoroti tingginya tingkat kepadatan penumpang KRL Jabodetabek yang dinilai telah menimbulkan berbagai tantangan operasional di lapangan.
“Lalu kepadatan penumpang. Sampai hari ini, Jabodetabek khususnya. Kepadatan penumpang itu sangat luar biasa. Terjadi permasalahan juga luar biasa. Nah itu yang bisa kita tata ke depannya sehingga bisa tertata bagaimana penumpang ini ke depan,” katanya.
Baca Juga: KRL Jabodetabek Overkapasitas hingga 161%, KAI Siapkan Penambahan Infrastruktur
Sebelumnya, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengungkapkan bahwa tingkat okupansi KRL Jabodetabek saat ini telah mencapai 128% hingga 161% pada sejumlah lintas utama.
Kondisi paling padat terjadi di lintas Rangkasbitung dengan tingkat okupansi mencapai 161% pada jam sibuk. Sementara itu, lintas Bekasi mencatat okupansi sekitar 140% dan Bogor sekitar 130%.
“Kalau kita lihat kapasitas optimalisasi sarana-prasarana di Jabodetabek ini, pada kondisi saat ini okupansi rate itu 128 sampai dengan 161 persen. Jalur Rangkasbitung peak-nya sudah 161 persen pada jam sibuk. Kalau digambarkan, 1 meter persegi bisa diisi sampai 8 orang. Bekasi sekitar 140 persen, Bogor sekitar 130 persen. Ini sudah sangat padat sekali,” jelas Bobby.
Baca Juga: Soal Rencana Holding BUMN Farmasi, Ini Respon Kimia Farma (KAEF)
KAI mencatat saat ini KRL Jabodetabek melayani sekitar 1,3 juta penumpang per hari. Jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 1,5 juta sampai 1,6 juta penumpang per hari pada 2030.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, KAI tengah menyiapkan sejumlah langkah peningkatan kapasitas, mulai dari modernisasi sistem persinyalan, penguatan pasokan listrik traksi, penambahan gardu listrik, hingga pengembangan sarana dan prasarana pada lintas-lintas yang mengalami kepadatan tinggi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya KAI meningkatkan kapasitas angkutan perkotaan sekaligus menjaga kualitas layanan bagi pengguna KRL Jabodetabek yang terus bertumbuh setiap tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













