Reporter: Zendy Pradana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah RI tengah gencar melakukan operasi pemberantasan barang impor ilegal hingga pengawasan ketat pada perdagangan e-commerce. Dengan adanya upaya tersebut, permintaan pesanan tekstil di Indonesia pun mengalami dampak yang positif.
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto mengatakan bahwa dengan adanya upaya pemberantasan barang impor ilegal hingga pengawasan ketat pada perdagangan e-commerce, membuat pemenuhan market lokal mengalami kenaikan saat ini.
"Kalau ditanya ke anggota kami yang untuk pemenuhan market lokal rata-rata ada kenaikan," ujar Anne kepada Kontan, Rabu (3/6/2026). Namun, AGTI belum bisa menjelaskan secara detail terkait dengan kenaikan permintaan pesanan TPT nasional.
Baca Juga: Ditopang KEK Kendal, Jababeka (KIJA) Yakin Target Marketing Sales 2026 Tercapai
Dalam upaya tersebut, AGTI mengapresiasi komitmen Pemerintah RI dalam menerapkan tata niaga yang berkeadilan sehingga produsen dalam negeri bisa bersaing secara sehat.
"Memang kami merasakan pembenahan tata niaga domestik memberikan same level of playing field antara impor legal dengan produsen lokal. Daya saing nasional menjadi teruji dengan baik dengan adanya same level of playing field ini," ucap dia.
Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) mencatat pemesanan produk tekstil yang diterima usaha industri kecil menengah (IKM) milik para anggota IPKB telah meningkat sejak awal April 2026.
Ketua IPKB Nandi Herdiaman mengatakan, para pelaku usaha konveksi mulai merasakan dampak positif ini setelah gencarnya operasi pemberantasan barang impor ilegal dan pengawasan e-commerce.
"Penjualan baju jadi murah yang dulu dibanjiri impor, sekarang pelan-pelan berkurang. Imbasnya, pemesanan ke konveksi-konveksi anggota IPKB naik kisaran 20% sampai 30%," kata Nandi dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, peningkatan pemesanan ini membuktikan IKM domestik masih kuat dan mampu bersaing jika pasar berada di jalur yang sehat. IPKB menemukan, kenaikan pemesanan terjadi baik dari brand lokal maupun reseller. Nandi menyebut, konsumen mulai kembali mencari produk lokal karena harga sudah lebih kompetitif.
"Barang impor bekas/bundelan yang jual obral Rp 5.000 hingga Rp 10.000 sudah jauh berkurang di marketplace. Ruang gerak IKM jadi lebih lapang," imbuhnya. Dengan naiknya pemesanan, lanjut Nandi, beberapa IKM mulai kembali membuka lowongan jahit dan packing, sehingga menjadi angin segar untuk serapan tenaga kerja.
Baca Juga: Importir China Dikabarkan Tunda Pembelian Batubara Imbas Sentralisasi Ekspor Via DSI
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













