kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.917.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.789   -61,00   -0,36%
  • IDX 8.975   24,32   0,27%
  • KOMPAS100 1.244   9,59   0,78%
  • LQ45 882   8,84   1,01%
  • ISSI 330   0,91   0,28%
  • IDX30 451   1,60   0,36%
  • IDXHIDIV20 533   1,62   0,31%
  • IDX80 138   1,09   0,79%
  • IDXV30 147   -0,35   -0,24%
  • IDXQ30 145   0,87   0,61%

Lebih optimistis, GPMT prediksi produksi pakan ternak di 2020 tumbuh 6%


Rabu, 29 Januari 2020 / 16:32 WIB
Lebih optimistis, GPMT prediksi produksi pakan ternak di 2020 tumbuh 6%
ILUSTRASI. Industri pakan ternak lebih optimistis di tahun ini karena ekonomi diprediksi lebih baik


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) memproyeksikan produksi pakan ternak bisa tumbuh sekitar 5% hingga 6% di sepanjang 2020 karena ada angin segar  yang menggairahkan industri ini. 

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo menyatakan pertumbuhan produksi pakan ternak bisa tumbuh hingga 6% di sepanjang 2020 karena adanya peningkatan konsumsi protein hewani. Adapun potensi produksinya bisa mencapai 20,67 juta ton. 

Baca Juga: Langkah Sierad Produce (SIPD) mengimpor bahan baku di tengah penguatan rupiah

"Saat ini kebutuhan protein hewani dari daging dan telur ayam sebesar 65%, sentimen baik lainnya adalah prospek makroekonomi yang diperkirakan tumbuh sekitar 5% dan tingkat konsumsi ayam dan telur yang masih rendah di Indonesia," jelasnya kepada Kontan.co.id, Rabu (29/1). 

Desianto menjelaskan lebih rinci tingkat konsumsi ayam dan telur Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara tetangga yakni Malaysia.

Menurut data yang dihimpun GPMT, konsumsi ayam Indonesia saat ini sekitar 13,5 kilogram per kapita/tahun, sedangkan Malaysia konsumsinya 44 kilogram per kapita/tahun. 

Baca Juga: Malindo Feedmill (MAIN) bidik pertumbuhan laba 15% tahun 2020

Adapun untuk konsumsi telur, Indonesia baru 130 butir per kapita/tahun, sedangkan Malaysia 330 butir telur perkapita/tahun. 

Adanya konsumsi yang rendah, Desianto bilang peluang konsumsi masyarakat Indonesia masih potensial. Ditambah juga harga ayam dan telur yang terjangkau serta penerimaan masyarakat akan daging ayam yang luas. 

Walaupun ada banyak katalis positifnya bukan berarti industri polutry akan mulus. Salah satu tantangan yang harus dihadapi industri pakan ternak sudah mulai di awal tahun ini.

Baca Juga: Virus corona menyengat IHSG, ini kata analis MNC Sekuritas

Dunia digegerkan dengan wabah 2019-nCoV atau virus Corona Wuhan yang membuat perekonomian global diproyeksikan melambat. 

Desianto bilang proyeksi perlambatan ekonomi global mungkin saja berpengaruh terhadap daya beli masyarakat tapi tidak signfikan.

"Mengingat 93% pakan yang diproduksi untuk ayam. Adapun ayam memberikan kontribusi signifikan terhadap konsumsi protein hewani bagi masyarakat Indonesia," jelasnya. 

Baca Juga: Harga saham longsor di pekan lalu, ini PER dan PBV saham emiten poultry dan ayam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×