kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.045   -4,00   -0,02%
  • IDX 7.159   110,60   1,57%
  • KOMPAS100 989   17,11   1,76%
  • LQ45 726   10,20   1,42%
  • ISSI 255   4,02   1,60%
  • IDX30 393   4,70   1,21%
  • IDXHIDIV20 489   1,41   0,29%
  • IDX80 111   1,74   1,59%
  • IDXV30 135   -0,09   -0,06%
  • IDXQ30 128   1,38   1,09%

Lonjakan Kredit Karbon Indonesia, Jadi Peluang Bisnis dan Investasi ESG


Sabtu, 08 November 2025 / 13:10 WIB
Lonjakan Kredit Karbon Indonesia, Jadi Peluang Bisnis dan Investasi ESG
ILUSTRASI. Group of businesspeople in team brainstorm meeting discussion on ESG (Environmental, social, corporate governance) organization planning.


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan kebutuhan kredit karbon di Indonesia diproyeksikan naik hingga sepuluh kali pada tahun 2022–2030. Tren tersebut membuka ruang bagi solusi berintegritas tinggi.  Mulai nature tech, measurement, reporting, verification (MRV), hingga layanan dekarbonisasi.

Di sisi lain, Indonesia menyiapkan salah satu pembangunan energi bersih terbesar di Asia Tenggara. Rencana kelistrikan nasional baru memproyeksi, sebanyak 70% penambahan kapasitas pembangkit berasal dari energi terbarukan, mendorong bauran menuju sekitar 35% pada tahun 2034. 

Bersamaan dengan itu, UD Impact, penyedia pendidikan kewirausahaan, mengumumkan MAJU:ON Hackathon 2025. Ini adalah program akselerasi intensif yang membantu mahasiswa dan founder mengubah ide menjadi solusi siap go-to-market untuk isu lingkungan dan energi di Indonesia. 

Saat ini, regulator menuntut hasil yang terukur dan berintegritas, termasuk kebutuhan akan dampak iklim yang nyata. Founder dituntut untuk mampu menghadirkan manfaat riil bagi komunitas.

"Kami memasangkan tim dengan para mentor terbaik di bidangnya serta akses pasar agar mereka dapat memvalidasi masalah, membangun pilot yang bankable, lulus sebagai startup siap investasi, dan mampu menciptakan bisnis yang lebih berkelanjutan di Indonesia,” kata Sunghwa Moon, Vice President UD Impact, dalam rilis ke Kontan.co.id, Jumat (7/11).  

Baca Juga: Teknologi Cementing oleh Elnusa Mampu Genjot Lifting Minyak 1 Juta Barel pada 2030

Program ini dikembangkan bersama konsorsium universitas di Indonesia. MAJU:ON merupakan program akselerasi intensif.  Tim mengikuti pelatihan pitch berstandar investor, pendampingan 1:1, kuliah pakar, dan demo.

Acara ini terbagi menjadi dua track, yakni, Student Track yang ditujukan untuk para mahasiswa, terdiri dari 16 tim mahasiswa ada sekitar 80 peserta. Sementara Early-Stage Track menargetkan founder maksimal tiga tahun setelah pendirian, terdiri dari 10 tim dengan sekitar 30 peserta.

Jonathan Davy, Co-Founder & CEO Ecoxyztem Venture Builder mengatakan, pemerintah dan korporasi saja tidak akan mengantarkan Indonesia ke net-zero. "Kita butuh perusahaan berbasis founder yang mengubah empati terhadap masalah lokal menjadi solusi yang layak dan skalabel," kata Jonathan.  

Selanjutnya, UD Impact akan meluncurkan program inkubasi pascahackathon bersama ANGIN Advisory dan hub universitas untuk mendorong tim unggulan bergerak dari prototipe menuju penerapan pertama. Tahap lanjutan ini akan fokus pada sektor-sektor dengan permintaan paling tinggi. Sehingga output hackathon benar-benar memberi dampak yang terukur.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×