kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45927,64   6,18   0.67%
  • EMAS1.325.000 -1,34%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Masalah Polusi Udara Dibahas dalam Ratas, Subsidi Pertamax Bagaimana?


Senin, 28 Agustus 2023 / 15:31 WIB
Masalah Polusi Udara Dibahas dalam Ratas, Subsidi Pertamax Bagaimana?
ILUSTRASI. Sektor yang menyumbang polusi udara terbesar ialah dari transportasi, pembangkit batubara (PLTU), hingga industri.. KONTAN/Cheppy A. Muchlis


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah sedang menggelar rapat terbatas (ratas) yang membahas isu polusi udara yang belakangan yang semakin memburuk di kawasan Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). 

Sejak lama, sejumlah sektor yang menyumbang polusi udara terbesar ialah dari transportasi, pembangkit batubara (PLTU), hingga industri. 

Selain mengerahkan tim khusus untuk menginvestigasi pembangkit batubara (PLTU), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menyampaikan opsi untuk mengalihkan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Pertalite (RON 90) ke Pertamax (RON 92). Cara ini dilakukan untuk meningkatkan konsumsi BBM beroktan lebih tinggi sehingga gas buang (emisi) lebih rendah. 

Baca Juga: Ada Wacana Subsidi Pertamax, Ini Kata BPH Migas dan Komisi VII DPR

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menyatakan, secara internal pihaknya sudah membahas opsi subsidi dialirkan ke Pertamax. Namun, dia belum bisa memberikan perincian mengenai rencana ini. 

“Ditunggu ya, karena ada sidang kabinet hari ini,” ujarnya saat dikonfirmasi mengenai isu polusi dan perkembangan subsidi Pertamax di Gedung Kementerian ESDM, Senin (28/8). 

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Yudo Dwinanda menyatakan, masalah polusi di Jakarta mau dirapatkan kembali. 

“Nanti kita lihat ini kan solusinya bermacam-macam dari berbagai macam Kementerian/Lembaga, Pemda, kita tunggu keputusannya nanti dari pimpinan,” ujarnya ditemui terpisah. 

Yudo menyatakan, Kementerian ESDM mengharapkan, semakin banyak orang yang menggunakan motor listrik untuk mengurangi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). 

Baca Juga: Menakar Untung Rugi Jika Subsidi Energi Dialirkan ke Pertamax

“Apakah bisa lebih menaikkan (penggunaan kendaraan listrik), itu yang kita coba,” jelasnya. 

Kementerian ESDM sejatinya telah menyiapkan salah satu opsi mendapatkan kendaraan listrik, yakni dengan konversi motor BBM ke elektrik. Di tahun ini pihaknya ditargetkan untuk melakukan konversi 50.000 unit motor. Sedangkan 27 Juli 2023, tercatat 4.578 pemohon konversi yang mendaftar melalui platform digital. Secara statistik, 94% berlokasi di Jawa. 

Selanjutnya: Atasi Perut Buncit hingga Selulit, 5 Manfaat Squat untuk Wanita yang Harus Moms Tahu

Menarik Dibaca: Atasi Perut Buncit hingga Selulit, 5 Manfaat Squat untuk Wanita yang Harus Moms Tahu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×