Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Talasemia bukan hanya masalah kesehatan individu, tetapi juga menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Tingginya potensi pembawa sifat talasemia (carrier) membuat skrining dan deteksi dini semakin penting.
Talasemia merupakan kelainan darah genetik yang menyebabkan tubuh tidak mampu memproduksi hemoglobin secara normal. Penyakit ini diturunkan dari orang tua kepada anak. Namun, pembawa sifat talasemia umumnya tampak sehat dan tidak menunjukkan gejala sehingga sering tidak menyadari kondisinya.
Data Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) tahun 2024 yang dikutip Kementerian Kesehatan RI mencatat sebanyak 13.939 penyandang talasemia. Sementara itu, sekitar 3%–10% penduduk Indonesia atau setara dengan 8,5 juta–27 juta orang diperkirakan merupakan pembawa sifat talasemia.
Besarnya angka tersebut menunjukkan masih banyak orang yang berpotensi membawa sifat talasemia tanpa mengetahuinya. Risiko melahirkan anak dengan talasemia mayor meningkat apabila kedua orang tua sama-sama merupakan pembawa sifat. Penyandang talasemia mayor membutuhkan perawatan jangka panjang.
Baca Juga: Dorong Kemandirian Kesehatan, Industri Perkuat Produksi Alat Medis di Dalam Negeri
Melihat hal itu, Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn) bersama Kementerian Kesehatan, Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), dan Sysmex Indonesia memperkuat kolaborasi skrining talasemia untuk memperluas deteksi dini dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kelainan darah tersebut.
Program ini bertujuan mengidentifikasi pembawa sifat (carrier) talasemia sejak dini, sekaligus mendorong edukasi, konseling, dan tindak lanjut medis guna menekan risiko kelahiran anak dengan talasemia mayor. Kick-off program digelar dalam rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) PDS PatKLIn 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Ketua Umum PDS PatKLIn periode 2025–2028, Teguh Triyono mengatakan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memperkuat kualitas pemeriksaan laboratorium, edukasi masyarakat, dan tindak lanjut medis.
Menurutnya, kedokteran laboratorium memiliki peran strategis dalam memastikan hasil pemeriksaan yang berkualitas sehingga masyarakat dapat mengetahui status pembawa sifat talasemia dan memperoleh penanganan serta konseling yang tepat.
“Melalui inisiatif ini, PDS PatKLIn mendorong peningkatan kualitas pemeriksaan laboratorium, edukasi masyarakat, serta tindak lanjut medis yang tepat guna menekan risiko talasemia dan melindungi generasi mendatang,” kata dia dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Baca Juga: Biaya Perawatan Meningkat, Rumah Sakit Mengembangkan Layanan Nonmedis
Dalam program ini, Sysmex Indonesia mendukung penguatan kapasitas pemeriksaan laboratorium, edukasi berbasis ilmiah, dan sinergi antarpemangku kepentingan. Perusahaan menilai teknologi kesehatan perlu didukung kolaborasi dan edukasi agar dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Rangkaian program skrining dan edukasi tersebut akan berlangsung hingga Desember 2027, termasuk melalui kegiatan dalam momentum Hari Talasemia Sedunia pada Mei 2027.
Keberhasilan inisiatif ini tidak hanya diukur dari jumlah pemeriksaan, tetapi juga dari peningkatan kesadaran masyarakat, perluasan akses edukasi, serta keberlanjutan deteksi dini. Melalui kolaborasi ini, para pihak berharap upaya pencegahan talasemia dapat berjalan lebih terintegrasi dan membantu melindungi generasi Indonesia mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
