Reporter: Leni Wandira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menekankan pentingnya penguatan industri berbasis riset dan inovasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto menyebut Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi sekitar 8% per tahun untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dan mencapai target Indonesia Emas 2045.
Dalam konteks tersebut, peran industri dinilai krusial, terutama industri yang tidak hanya berkembang secara bisnis, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja luas dan memiliki daya saing global.
Baca Juga: BKI Bidik Peran di Proyek Energi PLN Indonesia Power, Dorong Dekarbonisasi Pembangkit
“Industri yang established itu harus kuat sains, kuat riset dan inovasi. Ke depan, sebuah perusahaan harus punya inovasi, sains dan teknologi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/4).
Brian juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku industri dan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus merupakan sumber utama lahirnya inovasi teknologi yang dapat dikembangkan menjadi produk komersial.
“Karya inovasi teknologi mayoritas dilahirkan oleh perguruan tinggi. Kalau sudah mulai tumbuh, gandeng perguruan tinggi. Ajak dosen untuk kolaborasi riset,” katanya.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, pemerintah mendorong deregulasi di perguruan tinggi serta penguatan kolaborasi tridharma agar lebih berdampak langsung terhadap pembangunan ekonomi.
Salah satu program yang dijalankan adalah hilirisasi riset. Sepanjang 2022 hingga 2025, program ini telah mendanai 3.653 proposal dengan melibatkan 2.734 mitra industri, dengan total pendanaan mencapai Rp 2,99 triliun.
Baca Juga: Perluasan 5G Jadi Fokus Pemerintah, Infrastruktur Fiber Optik Dinilai Krusial
Langkah ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara riset akademik dan kebutuhan industri, sehingga inovasi yang dihasilkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dikomersialisasikan dan memberikan nilai tambah ekonomi.
Di sisi lain, keterlibatan generasi muda juga dinilai penting dalam membangun industri berbasis inovasi. Ekosistem seperti Novo Club disebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Senada dengan Mendiktisaintek, Salman Subakat, CEO Paragon Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) menyampaikan bahwa kampus dan ekosistem seperti Novo Club menjadi ruang penting bagi anak muda untuk saling brainstorming, membangun frame bisnis, dan menemukan rekan seperjalanan.
"Anak muda sekarang belum pernah benar-benar belajar bareng, mimpi bareng, ngobrol
bareng, brainstorming. Public speaking saja tidak cukup. Ketika di kampus, para mahasiswa perlu perlu bikin business frame bareng-bareng, " ujar Salman.
Welcoming Novo Club Batch 4 yang mengusung tema "Berani Berinovasi, Berdampak Tanpa Batas" digelar secara hybrid. Sebagai program pengembangan selama 1,5 tahun, Novo Club menggabungkan pembelajaran dengan praktik langsung di lapangan.
Sejak diluncurkan pada 2023, Novo Club telah menjangkau lebih dari 180.000 pendaftar dan menghasilkan lebih dari 260 program serta kegiatan yang dijalankan oleh mahasiswa di berbagai daerah.
Melalui Novo Club Batch 4, ParagonCorp berharap semakin banyak anak muda Indonesia yang tidak hanya memiliki ide, tetapi juga keberanian untuk mengeksekusi gagasannya dengan dukungan ekosistem perguruan tinggi, industri, dan sesama penggerak untuk menciptakan dampak nyata dari daerahnya, untuk Indonesi
Dengan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri, pemerintah berharap lahir lebih banyak perusahaan berbasis teknologi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas lapangan kerja di dalam negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













