kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.784.000   -30.000   -1,07%
  • USD/IDR 17.344   78,00   0,45%
  • IDX 7.101   28,83   0,41%
  • KOMPAS100 958   2,89   0,30%
  • LQ45 684   1,82   0,27%
  • ISSI 255   0,38   0,15%
  • IDX30 380   1,10   0,29%
  • IDXHIDIV20 465   2,14   0,46%
  • IDX80 107   0,37   0,34%
  • IDXV30 136   1,19   0,88%
  • IDXQ30 121   0,39   0,32%

Perluasan 5G Jadi Fokus Pemerintah, Infrastruktur Fiber Optik Dinilai Krusial


Rabu, 29 April 2026 / 22:27 WIB
Diperbarui Rabu, 29 April 2026 / 15:27 WIB
Perluasan 5G Jadi Fokus Pemerintah, Infrastruktur Fiber Optik Dinilai Krusial
ILUSTRASI. Teknisi memeriksa menara telekomunikasi TBIG (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah memfokuskan perluasan jaringan 5G.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi Indonesia dalam memperkuat peran sebagai ekonomi digital.

Pengamat Sekuriti Vaksincom Alfons Tanujaya menilai, perluasan jaringan 5G tidak cukup hanya dengan pembangunan menara telekomunikasi.

Baca Juga: JLL Pertahankan Peringkat Satu sebagai Penasihat Investasi Properti Tahun 2025

Pemerintah, menurutnya, juga perlu memperluas pembangunan infrastruktur fiber optik sebagai tulang punggung jaringan.

“Bisa saja pasang menara, tetapi kalau tidak ada internet ke sana karena tidak ada backbone, tetap tidak akan berfungsi optimal. Backbone itu perlu gelar fiber optik,” ujar Alfons kepada Kontan, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, fiber optik merupakan komponen penting dalam mendukung konektivitas 5G. Tanpa infrastruktur tersebut, menara yang dibangun tidak akan memiliki koneksi yang kuat ke jaringan utama.

“Ibaratnya di rumah kita pasang router, tapi ISP-nya tidak dipasang, ya tetap tidak bisa internet,” katanya.

Baca Juga: Pertamina & Pemerintah Resmikan SPBUN di Aceh Selatan, Perkuat Akses BBM Nelayan

Starlink Dinilai Bisa Jadi Solusi Sementara

Alfons menyebut terdapat alternatif solusi untuk mempercepat pemerataan jaringan, meski sifatnya sementara, yakni pemanfaatan layanan satelit seperti Starlink.

Menurutnya, di wilayah terpencil, pembangunan fiber optik membutuhkan biaya tinggi dan waktu lama, sehingga sulit mencapai return on investment dalam jangka pendek.

“Di daerah terpencil, menarik kabel fiber optik itu mahal dan bisa jadi sulit balik modal. Jadi bisa pakai Starlink sebagai backbone sementara, lalu diteruskan ke menara untuk distribusi jaringan,” jelasnya.

Baca Juga: CORE Ingatkan Risiko Hilirisasi: Nilai Tambah Bisa Bocor ke Luar Negeri

Komdigi Siapkan Lelang Spektrum 5G

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengumumkan rencana pelelangan pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz untuk penyelenggaraan jaringan bergerak seluler pada 2026.

Dalam keterangan resminya, langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan sumber daya spektrum frekuensi sekaligus mendorong perluasan jangkauan dan peningkatan kualitas layanan mobile broadband di seluruh Indonesia.

Program ini juga merupakan bagian dari implementasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 serta Rencana Strategis Komdigi 2025–2029.

“Tujuannya adalah memberikan tambahan ketersediaan spektrum bagi penyelenggara seluler guna mempercepat pemerataan akses internet berkualitas bagi masyarakat,” tulis Komdigi dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (24/4/2026).

Adapun spektrum yang dilelang meliputi pita 700 MHz pada rentang 703–738 MHz (uplink) dan 758–793 MHz (downlink) dengan total 70 MHz (2x35 MHz), serta pita 2,6 GHz pada rentang 2500–2690 MHz dengan total 190 MHz.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×