kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Menelusuri kondisi pemanfaatan sumber gas bumi di Indonesia


Kamis, 23 April 2020 / 17:50 WIB
ILUSTRASI. Gas bumi Indonesia semakin turun


Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, pemerintah bisa mengalokasikan dana khusus untuk pembangunan infrastruktur, misalnya lewat program jaringan gas bumi. Jika pemerintah menugaskan kepada badan usaha seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), maka pemerintah wajib memberikan kompensasi.

PGAS sendiri telah melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan infrastruktur gas bumi di Indonesia.

Dalam keterangan tertulis 20 Maret lalu, Sekretaris Perusahaan PGAS Rachmat Hutama menyebut, di tahun 2019 lalu, PGAS berhasil menambah infrastruktur gas bumi sepanjang 253 kilometer. Alhasil, total jaringan pipa yang telah dibangun dan dikelola oleh perusahaan tersebut mencapai 10.169 kilometer.

Baca Juga: Perusahaan Gas Negara (PGAS) siapkan perencanaan kelangsungan bisnis hadapi corona

“Hal ini mencerminkan bahwa lebih dari 98% jaringan pipa gas bumi di Indonesia diusahakan oleh PGAS,” tulisnya.

Hingga tahun 2024, PGAS telah memiliki rencana penambahan infrastruktur gas bumi guna mensuplai kebutuhan berbagai segmen konsumen.

Di antaranya pembangunan jaringan pipa distribusi sepanjang 500 kilometer dan pipa transmisi 528 kilometer, pembangunan 7 Liquified Natural Gas (LNG) filling station untuk truk atau kapal, 5 Floating Storage Regasification Unit (FSRU), 3,59 juta sambungan rumah tangga, dan 17 LNG.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×