kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Menilik strategi industri manufaktur saat rupiah keok


Selasa, 14 Agustus 2018 / 20:45 WIB

Menilik strategi industri manufaktur saat rupiah keok


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah yang terus loyo membuat industri manufaktur nasional menjerit. Alhasil semua industri berusaha cari cara untuk bisa atasi masalah nilai tukar tersebut.

Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi GP Farmasi Indonesia, Vincent Harijanto menjelaskan, nilai tukar Rupiah melemah atau menguat justru menyulitkan.

Pasalnya, industri farmasi lebih membutuhkan nilai tukar yang stabil agar dapat menentukan rencana jangka panjang dan penentuan harga jual.

Di GP farmasi saat ini ada empat elemen yang terlibat. Yakni pelaku industri farmasi manufaktur, Pedagang Besar Farmasi (PBF) obat jadi maupun PBF bahan baku, apotik dan toko obat. "Tentu yang kena PBF bahan baku dan juga industri yang impor bahan baku," kata Vincent, Senin (14/8).

Untuk industri farmasi yang besar, langkah pertama untuk mensiasati pelemahan rupiah ini adalah melakukan efisiensi dalam produksi. Sedangkan untuk PBF bahan baku saat ini masih menunggu langkah pemerintah untuk menstabilkan harga nilai tukar. 

Pasalnya harga acuan awal tahun yakni Rp 13.500 dan saat ini harga acuan itu sudah naik. "Untuk hedging opsinya saat ini belum bisa karena hedging fee lebih mahal ketimbang marjin keuntungan," kata Vincent.

Oleh karena itu, saat ini pihak industri farmasi saat ini masih berdiskusi dengan Bank Indonesia untuk opsi lain. Terbaru ada program Call Spread Option yang ditawarkan oleh Bank Indonesia. 

Sementara, Presiden Direktur PT Hyundai Motor Indonesia (HMI), Mukiat Sutikno menjelaskan, nilai rupiah memang sudah jauh dari prediksi awal tahun. Saat itu Hyundai mematok harga Rupiah stabil di angka Rp 13.500 sampai Rp 13.700. Namun untuk saat ini sudah jauh menjadi Rp 14.600. 

"Tentu tak hanya kami, tapi semua pelaku industri otomotif baik yang produksi dalam negeri ataupun impor kendaraan kena dampak," kata Mukiat kepada Kontan.co.id, Selasa (14/8).

Sutjiadi Lukas, Ketua Umum Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) menuturkan pihaknya masih lihat situasi karena bulan Februari para pelaku industri mainan baru naik harga jual. 

Tahun 2016-2017 nilai tukar rupiah berada di angka Rp 13.500. Sedangkan di Februari 2018 ada kenaikan menjadi Rp 14.000 sampai Rp 14.300. "Kalau menyentuh Rp 15.500 kemungkinan besar importir stop dulu karena bisa beli tapi berat untuk jualnya," kata Lukas, Senin (14/8).


Reporter: Eldo Christoffel Rafael
Video Pilihan


Close [X]
×