Reporter: Gentur Putro Jati |
JAKARTA. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemhub) Herry Bakti S Gumay optimis target pertumbuhan penumpang sebesar 10% dibanding tahun lalu masih bisa tercapai. Meskipun belakangan aktivitas Gunung Merapi terbukti mampu mengganggu penerbangan ke Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta, Achmad Yani Semarang dan Adi Soemarmo Solo.
Tercatat sudah ada PT Indonesia AirAsia yang membatalkan penerbangan Kuala Lumpur-Solo dan Kuala Lumpur-Yogyakarta sepanjang hari kemarin karena khawatir akan debu vulkanik Merapi. Sesudahnya, dua maskapai asing lainnya, yaitu Silk Air dan Thomas Cook yang enggan mendarat di Solo masing-masing dari Singapura dan Jeddah; meski penumpang yang diangkut dua maskapai itu tidak masuk dalam realisasi penumpang maskapai nasional yang dicatat Kemhub.
"Memang trafik penumpang dan pesawat ke tiga bandara itu, khususnya ke Yogyakarta tinggi. Tetapi target pertumbuhan 10% masih bisa tercapai. Karena kami menghitungnya sepanjang tahun, bukan hanya November-Desember saja," kata Herry, Rabu (3/11).
Sekedar mengingatkan, tahun ini pemerintah menargetkan jumlah penumpang domestik sebanyak 48,18 juta dan 5,45 juta penumpang internasional. Seperti disebutkan diatas, target ini naik 10% dibandingkan realisasi tahun lalu dimana penumpang domestik sebanyak 43,8 juta dan 4,96 juta penumpang internasional.
Sampai kuartal III 2010, jumlah penumpang pesawat yang diterbangkan maskapai nasional sebanyak 35,7 juta orang terdiri dari 31,64 juta (65,6% dari target) penumpang domestik dan 4,06 juta (74,4%) penumpang internasional.
Namun Herry mengakui bahwa penerbangan ketiga kota di Jawa Tengah itu sudah berstatus waspada. Bahkan otoritas penerbangan Darwin Australia disebutnya sudah menerbitkan notice to airmen untuk mewaspadai pergerakan debu vulkanik (Ashtam) di ketiga kota tersebut.
"Kami menyiasatinya dengan menyiapkan rute Utara dan Selatan. Misalnya rute Selatan yang melintasi Madiun, sebelumnya dilarang oleh Kepala Staf Angkutan Udara untuk dilintasi penerbangan komersil. Tetapi setelah kami jelaskan kondisinya, rute itu bisa dibuka. Sehingga pesawat yang mau terbang dari arah Bali atau Timur ke Barat seperti Solo, Semarang, Yogyakarta, Jakarta bisa lewat situ dengan ketinggian diatas 20.000 kaki," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News