kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.010   -128,00   -0,75%
  • IDX 7.206   234,51   3,36%
  • KOMPAS100 996   37,87   3,95%
  • LQ45 727   25,11   3,58%
  • ISSI 257   7,67   3,07%
  • IDX30 396   13,70   3,59%
  • IDXHIDIV20 484   12,31   2,61%
  • IDX80 112   4,00   3,71%
  • IDXV30 133   2,67   2,05%
  • IDXQ30 128   3,87   3,12%

Multicrane: Kenaikan Harga Komoditas Belum Langsung Dongkrak Penjualan Alat Berat


Rabu, 08 April 2026 / 11:48 WIB
Multicrane: Kenaikan Harga Komoditas Belum Langsung Dongkrak Penjualan Alat Berat
ILUSTRASI. PT Multicrane Perkasa (MCP) (Dok/PT Multicrane Perkasa)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga komoditas belum otomatis mendorong lonjakan penjualan alat berat. Pelaku industri menilai, dampak positif masih tertahan oleh sejumlah faktor fundamental di tingkat perusahaan.

Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa Ardianus Hadiwinata mengatakan, kenaikan harga komoditas memang memberikan sentimen positif bagi industri alat berat. Namun, pengaruhnya terhadap penjualan tidak selalu langsung signifikan.

Menurut dia, setiap komoditas memiliki dinamika berbeda, mulai dari batubara, nikel, kelapa sawit hingga emas, yang dipengaruhi faktor global, regulasi, serta kesiapan investasi di lapangan.

Baca Juga: Menunggu RKAB, Penjualan Alat Berat Diproyeksi Naik di Semester II

“Pasar saat ini masih cenderung netral. Kenaikan harga membuka potensi ekspansi, tetapi keputusan investasi tetap bergantung pada cash flow, kepastian proyek, dan kondisi operasional,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).

Ardianus menambahkan, perusahaan tidak hanya fokus pada peningkatan penjualan unit, tetapi juga memperkuat peran sebagai mitra solusi bagi pelanggan. Pendekatan ini dilakukan untuk memahami kebutuhan operasional konsumen secara lebih komprehensif.

Di sisi lain, ia mengungkapkan terdapat dua faktor utama yang akan menopang bisnis alat berat ke depan. Pertama, aktivitas ekonomi dan pembangunan proyek.

Menurut dia, peningkatan proyek di sektor pertambangan, infrastruktur, dan industri akan mendorong kebutuhan alat berat. Namun, permintaan sangat bergantung pada realisasi proyek di lapangan, bukan semata pergerakan harga komoditas.

Kedua, perubahan kebutuhan terhadap alat yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Kenaikan harga bahan bakar, khususnya solar, mendorong pergeseran permintaan ke alat berat yang lebih hemat energi.

“Hal ini mendorong kebutuhan terhadap equipment dengan teknologi yang lebih baik, baik dari sisi mesin maupun sistem kontrol,” jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaan alat berat yang lebih efisien dapat menekan konsumsi bahan bakar, menurunkan biaya operasional, serta meningkatkan efisiensi investasi dengan produktivitas yang tetap terjaga.

Baca Juga: Lintasarta Percepat Pemulihan Jaringan 60% Saat Lebaran, Gangguan Turun 20%

Ke depan, tren ini juga diperkirakan akan memicu permintaan terhadap tipe alat berat baru yang lebih spesifik sesuai kebutuhan operasional di lapangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×