kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45933,94   -29,79   -3.09%
  • EMAS1.321.000 0,46%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Nasib Bisnis Tes PCR dan Antigen Pasca Pemerintah Perlonggar Syarat Naik Transportasi


Selasa, 29 Maret 2022 / 22:42 WIB
Nasib Bisnis Tes PCR dan Antigen Pasca Pemerintah Perlonggar Syarat Naik Transportasi


Reporter: Asnil Bambani Amri, Jane Aprilyani | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Pemandangan berbeda terlihat di sejumlah fasilitas penyedia jasa tes usap PCR (reverse transcription polymerase chain reaction) dan antigen Covid-19 belakangan ini. Jika bulan Februari lalu masih ramai dengan antrean pasien, memasuki pekan kedua Maret, kunjungan pasien lebih sepi dari biasanya.

Bagai roda nasib yang berputar, begitulah yang kejadian. Penurunan kunjungan pasien pun terjadi menyusul adanya pelonggaran kebijakan wajib tes PCR atau antigen untuk penumpang transportasi.

Seperti cerita staf administrasi Klinik Anugrah di Banyuwangi, Jawa Timur. Klinik yang sebelumnya banyak melayani pasien untuk periksa PCR dan antigen untuk persyaratan menyeberang ke Bali itu, belakangan, sepi dan lebih banyak melayani pengobatan pasien.

"Sekarang kami fokus ke layanan pengobatan," kata staf admin Klinik Anugrah kepada KONTAN, Rabu (23/3).

Baca Juga: Masyarakat Makin Terbiasa, Bisnis Kartu Perbankan Mulai Menuju Kondisi Pra Pandemi

Adapun sebelumnya, Klinik Anugrah yang berlokasi dekat Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, itu ramai dikunjungi wisatawan yang ingin tes PCR atau antigen untuk syarat menyeberang ke Bali.

Kondisi yang tak jauh berbeda terjadi di RS Krakatau Medika di Serang, Banten. Pasca pelonggaran aturan wajib PCR bagi penumpang transportasi, jumlah pengunjung tes PCR dan tes antigen di RS Krakatau Media ikut turun. "Kunjungan pasien turun sampai 50%," kata Agus Wirawan, Humas RS Krakatau Media.

Namun demikian, layanan PCR dan antigen masih tersedia di RS Krakatau Medika karena mereka melayani pasien rawat jalan dan rawat inap. Pasien yang mau mendapat tindakan medis tetap wajib tes PCR agar tidak berisiko menulari petugas medis dan pasien lain dari Covid-19.

Penurunan jumlah pasien yang melakukan tes PCR dan antigen juga terjadi di klinik dokter mandiri. David, Penanggungjawab Fasilitas Praktik Dokter Etty di Kranggan, Bekasi, Jawa Barat, bilang, dalam sebulan biasanya mereka melayani 30 pasien tes PCR, tapi belakangan hanya 20 pasien.

Dari sisi bisnis, David bilang, penurunan layanan PCR dan antigen itu tidak berpengaruh besar bagi mereka. Sebab, sebelum membuka layanan PCR, mereka sudah buka layanan kesehatan bagi warga Kranggan.

Baca Juga: Jadwal Libur Bersama & Tanggal Merah Idul Fitri 2022, Persiapan Mudik Lebaran

"Yang berat itu laboratorium yang buka saat Covid-19. Jika sepi, tentu bisnis mereka terganggu," tambah David.

Apa yang disampaikan David memang menjadi beban pikiran bagi pengusaha laboratorium jasa PCR dan antigen yang muncul saat pandemi. Kondisi ini terlihat dari layanan operasional tes PCR dan antigen di Quicktest yang turun sampai 75% belakangan ini. Maklum, 60% pasien yang datang untuk periksa PCR dan antigen adalah pengguna transportasi.

Sekadar gambaran, Quicktest biasanya melayani 5.000 tes PCR per hari dan sebanyak 10.000 tes antigen per hari. Namun karena penumpang transportasi tak wajib PCR dan antigen lagi, pasien yang datang ke Quicktest lebih banyak karena alasan medis. "Yang dapat kami lakukan saat ini hanyalah efisiensi tenaga kerja dan mengurangi biaya operasional agar tidak terjadi kerugian," ungkap Irawati.

Penurunan jumlah pasien yang melakukan tes PCR dan antigen juga terjadi di perusahaan laboratorium berjaringan seperti PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA). Bulan ini, Prodia menghitung rata-rata harian tes PCR hanya sekitar 600 per hari. "Turun sekitar 50% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya," kata Dewi Muliaty, Direktur Utama Prodia, kepada KONTAN.

Harus tambah layanan

Namun, Dewi berpendapat, penurunan jumlah pasien yang melakukan tes Covid-19 bukan karena pelonggaran kebijakan wajib usap PCR untuk pengguna transportasi semata. Tetapi ada faktor lain, seperti vaksinasi yang menurunkan jumlah kasus karena terbentuknya imunitas komunal.

Bisnis tes PCR dan antigen memang terbilang menggiurkan. Apalagi di awal-awal Covid-19. Saat itu kebutuhan layanan tak seimbang dengan jumlah penyedia layanan. Alhasil, hukum ekonomi terjadi, tarif PCR dan antigen sempat melambung tinggi. Tapi seiring banyaknya penyedia layanan dan adanya regulasi, tarif PCR dan antigen akhirnya turun.

Randy Teguh, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia (Gakeslab), bilang, penurunan tarif seimbang dengan jumlah pemeriksaan yang banyak. Sehingga tetap menguntungkan bagi penyedia jasa laboratorium. "Jika ramai menguntungkan, jika sepi bisa rugi karena beban operasional sama," terang Randy yang mengusulkan pemerintah melakukan evaluasi tarif PCR dan antigen.

Baca Juga: Pesta Sudah Usai, Simak Bagaimana Nasib Bisnis Tes PCR dan Antigen

Selain penyesuaian harga, Randy mengusulkan agar laboratorium yang sudah berdiri tetap melayani jasa laboratorium kesehatan dengan skala yang lebih luas. Sehingga tidak cuma tes usap PCR dan antigen saja, tapi juga layanan pemeriksaan kesehatan lainnya.

Adapun Lia Gardenia Partakusuma, pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia, menyebutkan, penyedia jasa tes PCR dan antigen yang terdampak rata-rata melayani pasien PCR untuk kebutuhan transportasi. Adapun yang memiliki jaringan akan bertahan karena bisa mengembangkan layanan bisnis laboratorium yang lain. "Jangan bergantung ke PCR dan antigen Covid-19 saja. Harus menambah layanan," kata Lia.

Apa yang disarankan Randy dan Lia kini memang dipersiapkan Quicktest. Irawati bilang, laboratorium Quicktest yang sebelumnya hanya melayani PCR dan antigen saja, kini sedang bersiap menyediakan layanan laboratorium kesehatan lainnya, termasuk layanan medical check up.

Apa yang dilakukan Quicktest juga dipersiapkan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang memiliki jaringan tes PCR lewat Laboratorium Klinik Kalgen Innolab. Vidjongtius, Direktur Utama KLBF, ketika wawancara dengan Kontan.co.id bilang, pihaknya sudah mempersiapkan aneka layanan kesehatan lain di laboratoriumnya.

Berbeda dengan Prodia, yang sedari awal sudah memiliki bisnis laboratorium yang melayani beragam pemeriksaan kesehatan. Dewi bilang, bisnis tes PCR dan antigen bukan tulang punggung perusahaan. "Prodia menyediakan laboratorium terlengkap dan sesuai dengan perkembangan laboratorium yang tidak hanya berfokus pada satu tes saja," terang Dewi.

Selama pandemi, Prodia mencatat, 80% pendapatan berasal dari tes genomic dan tes kesehatan rutin. Sehingga, saat terjadi penurunan tes PCR dan antigen tidak signifikan mempengaruhi pendapatan. Selain itu, Prodia tidak hanya mengandalkan layanan tes PCR ke pengguna transportasi, melainkan ke segmen korporasi.

Meski tak signifikan, namun pendapatan dari bisnis PCR ikut membantu kinerja Prodia tahun lalu dengan jumlah tes 19,6 juta. Angkanya naik jika dibandingkan layanan PCR tahun 2020 yang masih 14 juta.

Perlu diketahui, bisnis PCR dan antigen terbilang bisnis menggiurkan. Jika merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), impor alat PCR dan antigen yang mendapat insentif cukai, bea masuk, dan pajak mencapai ratusan juta dollar per tahun (lihat tabel). Tahun 2021 lalu, impor alat PCR dan antigen mencapai US$ 722,8 juta.

Butuh regulasi

Walaupun ada pelonggaran wajib tes usap PCR dan antigen, namun banyak orang masih membutuhkannya. Mereka kini mulai melakukannya secara mandiri dengan alat tes usap Covid-19 yang semakin terjangkau. Namun sayang, tak banyak yang paham aturan penggunaan dan perdagangan alat tes usap tersebut.

Baca Juga: Vaksin Booster Jadi Syarat Mudik, Pengamat: Belum Tentu Efektif

Jika merujuk aturan, produk dan peralatan kesehatan itu harus memiliki izin edar dari Kementerian Kesehatan. "Begitu juga dengan penjual, wajib memiliki izin sebagai pedagang alat kesehatan," kata Randy.

Dari sisi pemakaian juga begitu, tak banyak yang paham menggunakan alat tes usap itu. Maka Randy mengusulkan agar pemerintah membuat aturan khusus terkait dengan peredaran alat-alat tes cepat Covid-19.

Kekhawatiran Randy juga disampaikan oleh Lia. Penggunaan dari alat tes cepat Covid-19 itu butuh keahlian khusus agar hasilnya sesuai dengan kondisi tubuh. Selain tata cara penggunaan, Lia juga menyoroti pengelolaan sampah lat tes usap Covid-19 itu. "

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet Using Psychology-Based Sales Tactic to Increase Omzet

[X]
×