kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

New normal melecut cita-cita Industri 4.0


Senin, 08 Juni 2020 / 05:00 WIB
New normal melecut cita-cita Industri 4.0
ILUSTRASI.


Reporter: Agung Hidayat, Arfyana Citra Rahayu | Editor: Anastasia Lilin Yuliantina

Sementara, aturan pembatasan fisik mewajibkan minimal selisih jarak 1,2 meter antar manusia. "Sehingga mau tidak mau harus menerapkan automation dan robotic jadi people to machine interface semakin dibutuhkan seperti dalam Industri 4.0," tutur Adhi S. Lukman, Ketua Umum GAPMMI kepada KONTAN, Jumat (29/5).

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) melaporkan, utilitas industri hilir kimia sudah turun lebih dari 60%. Lini hilir kimia sedang berjibaku mempertahankan keberlangsungan bisnis dengan cara mencari celah di tengah tantangan pasar Asia Tenggara.

Fajar Budiono, Sekretaris Jenderal Inaplas mengatakan, otomatisasi lini hilir kimia saat ini sudah sekitar 50%. Sebelum menerapkan konsep Industri 4.0, mestinya terlebih dahulu pelaku industri memenuhi aturan kenormalan baru.

Namun penerapan konsep Industri 4.0 tak semudah membalikkan telapak tangan. Otomatisasi mesin produksi  membutuhkan anggaran investasi yang besar. "Sementara sekarang fokus industri ialah surviving (bertahan hidup) dulu," kata Oki Widjaja, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Industri Elektronika dan Alat-Alat Rumah Tangga (Gabel) kepada KONTAN, Jumat (29/5) lalu.

(Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×