Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) masih melihat prospek bisnis kemasan plastik hingga akhir 2026. Di tengah dinamika harga minyak yang berpotensi mempengaruhi biaya bahan baku, PBID memilih memperkuat pasar domestik, khususnya segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) makanan dan minuman serta pasar tradisional.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Panca Budi Idaman Lukman Hakim mengatakan, PBID melihat sektor konsumsi makanan dan minuman domestik masih memiliki prospek yang kuat. Karena itu, PBID akan terus menyasar segmen tersebut sebagai pasar utama.
"Kami fokus ke pasar konsumsi domestik dan segmen UMKM makanan & minuman dan pasar tradisional dinilai memiliki daya tahan yang kuat," kata Lukman kepada Kontan, Senin (14/9/2026).
Baca Juga: CITA: Rokok Ilegal Marak, Potensi Penerimaan Negara Hilang Rp59,86 Triliun
Menurut dia, fokus tersebut menjadi bagian dari upaya PBID mempertahankan pangsa pasar sekaligus membuka peluang ekspansi. Perseroan juga akan mendorong peningkatan kualitas produk, inovasi serta efisiensi operasional.
Lukman menambahkan, pasar tradisional dan pelaku UMKM di sektor makanan dan minuman dinilai memiliki tingkat permintaan yang relatif stabil. Kondisi ini menjadi pertimbangan PBID untuk mempertahankan fokus pada pasar konsumsi domestik hingga akhir tahun.
"Kami akan fokus pada konsumsi domestik dengan memperkuat strategi bisnis menyasar pasar tradisional & pelaku UMKM di sektor makanan dan minuman," ujarnya.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati industri kemasan plastik. Pasalnya, bahan baku plastik berbasis petrokimia memiliki keterkaitan dengan harga minyak dan kondisi pasar petrokimia global.
Namun, Lukman menyebut kondisi rantai pasok bahan baku PBID masih berjalan lancar. Perseroan juga memiliki kerja sama dengan lebih dari 20 perusahaan petrokimia sehingga memiliki alternatif sumber bahan baku.
"Kita kerja sama dengan lebih 20 petrochemical, di ASEAN petrochemical juga banyak, untuk supply chain masih lancar & bisa mendapatkan harga raw material yang kompetitif," jelas Lukman.
Menurutnya, jaringan pemasok tersebut juga menjadi bagian dari strategi perseroan dalam menjaga ketersediaan dan pengelolaan persediaan bahan baku. Dengan pasokan yang tetap terjaga dan pilihan pemasok yang beragam, PBID berupaya menekan dampak kenaikan biaya bahan baku terhadap kinerja perseroan.
"Kita menjaga inventory kita dengan kerja sama dengan lebih 20 petrochemical, di ASEAN petrochemical juga banyak, untuk supply chain masih lancar & bisa mendapatkan harga raw material yang kompetitif," kata Lukman.
Selain menjaga pasokan bahan baku, PBID akan mempertahankan pangsa pasar melalui ekspansi pasar, peningkatan kualitas, inovasi produk dan efisiensi operasional. Strategi tersebut diharapkan dapat menopang pertumbuhan penjualan sekaligus menjaga profitabilitas perseroan hingga akhir 2026.
Sebagai informasi tambahan, Panca Budi Idaman membidik pertumbuhan penjualan sebesar 10% pada tahun 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














