kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.406   62,00   0,36%
  • IDX 6.927   -174,68   -2,46%
  • KOMPAS100 932   -25,23   -2,63%
  • LQ45 668   -16,35   -2,39%
  • ISSI 249   -6,54   -2,56%
  • IDX30 372   -7,24   -1,91%
  • IDXHIDIV20 457   -8,14   -1,75%
  • IDX80 105   -2,74   -2,55%
  • IDXV30 134   -2,38   -1,75%
  • IDXQ30 119   -2,29   -1,89%

Panel Surya RI Terancam Tarif Impor AS 143%, Pertamina NRE Perkuat Pasar Domestik


Kamis, 30 April 2026 / 11:22 WIB
Panel Surya RI Terancam Tarif Impor AS 143%, Pertamina NRE Perkuat Pasar Domestik
ILUSTRASI. PLTS Pertamina NRE (Dok/Pertamina NRE)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri panel surya dalam negeri tengah menghadapi tantangan setelah Amerika Serikat (AS) mengancam bakal mengenakan tarif impor hingga 143%.

Langkah ini merupakan buntut dari penyelidikan antisubsidi yang dilakukan otoritas AS terhadap produk komponen energi surya asal Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Indonesia memiliki sejumlah basis produksi panel surya yang berlokasi di Batang, Kendal, hingga Batam. Pabrik-pabrik tersebut selama ini aktif melakukan ekspor untuk memenuhi kebutuhan pasar energi terbarukan di Negeri Paman Sam tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Chief Executive Officer (CEO) Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), John Eusebius Iwan Anis mengungkapkan, strategi mitigasi terbaik saat ini adalah dengan memastikan industri modul surya nasional memiliki penopang permintaan yang solid di dalam negeri.

Baca Juga: Pertamina NRE Gandeng US Grains & BioProducts Council untuk Pengembangan Bioetanol

"Dalam menghadapi kebijakan tarif AS, strategi paling tepat adalah memperkuat pasar domestik agar industri modul surya nasional tetap memiliki penopang yang kuat di luar pasar ekspor," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (30/4/2026). 

John mengungkapkan, proyek-proyek strategis nasional bakal menjadi penggerak untuk menyerap produksi pabrik-pabrik tersebut.

Salah satunya adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar serta proyek ekspor listrik hijau ke negara tetangga yang membutuhkan komponen modul surya dalam jumlah masif.

"Program akselerasi PLTS 100 GW, termasuk dukungan pengembangan proyek PLTS di Indonesia untuk ekspor listrik ke Singapura, menjadi kunci karena dapat menciptakan permintaan jangka panjang sekaligus menyerap produksi modul surya dalam negeri," ungkapnya.

Saat ini, lanjut John, Pertamina NRE tengah aktif memperkuat ekosistem manufaktur surya di tanah air. Dia membeberkan, pihaknya sedang menjalin kemitraan untuk membangun fasilitas produksi dengan kapasitas yang cukup besar guna menjamin ketersediaan pasokan bagi proyek-proyek dalam negeri.

Baca Juga: Pertamina NRE Kuasai 20% Saham CREC Perusahaan EBT Asal Filipina

"Saat ini Pertamina NRE dalam tahap pengembangan kerja sama dengan manufaktur panel surya yang sedang membangun fasilitas berkapasitas hingga sekitar 2 GW per tahun, dengan fokus awal untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik," terangnya.

Lebih lanjut, John menambahkan, selain kapasitas produksi, Pertamina NRE juga mulai melirik diversifikasi teknologi yang lebih efisien dan mandiri dari sisi bahan baku. 

"Kami juga sedang mengkaji solar panel dengan teknologi yang berbeda, seperti Thin Film, di mana keunggulannya adalah dalam hal konstruksi dan instalasi yang lebih murah dan lebih mudah. Selain itu, hampir 95% bahan baku bisa didapatkan di Indonesia. Artinya, ini termasuk proyek hilirisasi," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×