kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.788.000   -12.000   -0,43%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Pasar yang stagnan jadi kendala petani jahe


Kamis, 03 Agustus 2017 / 19:02 WIB


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Rencana pemerintah yang ingin mengembalikan kejayaan rempah nasional ditanggapi positif oleh Ketua Asosiasi Petani Jahe Organik (Astajo), Kabul Indarto. Hanya saja, menurutnya pemerintah juga perlu memperluas pasar, supaya hasil produksi petani dapat terserap.

Kabul berpendapat, saat ini pemerintah sudah menyediakan berbagai bibit unggul. Hal tersebut membantu meningkatkan produksi jahe di Indonesia terus meningkat. Hanya saja, sampai saat ini masih banyak jahe petani yang tidak terjual akibat pasar yang tidak tumbuh.

"Produksi tahun ini khususnya jahe gajah meningkat, tetapi yang belum terjual masih banyak. Pemasaran juga harus ditingkatkan lagi," tutur Kabul kepada KONTAN, Kamis (3/8).

Menurut Kabul, saat ini jahe Indonesia hanya diekspor kepada Bangladesh, India, dan Pakistan. Jahe nasional juga masih sulit bersaing dengan pasar internasional, di mana China menawarkan jahe dengan harga yang lebih murah dibandingkan Indonesia.

Selain memperluas pasar, Kabul berpendapat pemerintah perlu menyediakan bibit-bibit yang lebih murah serta memperluas lahan yang dapat ditanami.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×