Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) menurunkan kapasitas produksi pabriknya di Cilegon akibat terganggunya pasokan bahan baku imbas konflik di Timur Tengah.
Perusahaan petrokimia asal Korea Selatan ini terpaksa menjalankan operasi pada level minimum karena keterbatasan suplai nafta dan LPG.
Corporate Planning General Manager Lotte Chemical Indonesia, Lee Dae Lo, mengatakan konflik di kawasan tersebut membuat operasional pabrik tidak dapat berjalan normal.
Baca Juga: Industri Pulp dan Kertas Masih Prospektif, Tapi Dibayangi Tekanan Biaya & Geopolitik
"Sekarang kita sangat kekurangan bahan baku, misalnya nafta dan LPG. Itulah sebabnya kami mengoperasikan pabrik kami dengan operasi minimum," ujarnya ditemui di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Menurut dia, sebelum konflik memanas, hampir seluruh pasokan bahan baku LCI berasal dari Timur Tengah. Namun kini perusahaan mulai mengalihkan sumber impor ke sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, hingga Nigeria.
Meski telah melakukan diversifikasi pasokan, ketersediaan bahan baku masih terbatas dan belum sepenuhnya mampu menggantikan kebutuhan sebelumnya. Kondisi ini membuat perusahaan harus menyesuaikan tingkat produksi.
Lee menambahkan, stok bahan baku yang dimiliki saat ini diperkirakan hanya mampu menopang operasional dalam beberapa bulan ke depan. LCI pun terus mencari alternatif pasokan agar kegiatan produksi tetap berjalan.
“Kami masih berusaha untuk terus beroperasi demi industri Indonesia, terutama industri hilir,” katanya.
Sebelumnya, Direktur Management Support PT Lotte Chemical Indonesia, Cho Jin-Woo, menyampaikan pihaknya juga telah melakukan diversifikasi sumber bahan baku untuk menjaga pasokan bagi industri hilir.
Ia menegaskan, perusahaan memprioritaskan alokasi produksi untuk pasar domestik di tengah tekanan rantai pasok global. Namun, operasional perusahaan saat ini tetap disesuaikan dengan kondisi logistik yang ada.
"LCI terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan, sekaligus mendukung stabilitas sektor manufaktur nasional," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Bos Danantara Ungkap Progres Negosiasi Saham Proyek Petrokimia Lotte di Cilegon
Adapun, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan pemerintah telah berkoordinasi dengan pelaku usaha untuk menyiapkan substitusi bahan baku plastik di tengah gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah (Timteng).
Politikus Golkar itu mengatakan, kendala pasokan bahan baku plastik seperti nafta akibat dinamika geopolitik global memang terjadi. Namun, pemerintah telah mengantisipasi melalui pembahasan intensif dengan kalangan industri.
“Plastik saya kira wajar ya kalau ada masalah sedikit mengenai supply, tetapi ada substitusinya yang memang sudah kita bicarakan dengan para pelaku usaha,” ujarnya ditemui di Menara Kompas, Kamis (9/4/2026).
Menurut Agus, normalisasi distribusi global sangat bergantung pada stabilitas kawasan, termasuk perkembangan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jika jalur tersebut kembali normal, rantai pasok bahan baku petrokimia diharapkan ikut pulih.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian memastikan ketersediaan bahan baku plastik nasional tetap terjaga meski terjadi tekanan geopolitik global yang berdampak pada kenaikan harga. Gangguan pasokan nafta sebagai bahan baku utama industri plastik telah meningkatkan biaya di sektor hulu.
Agus menjelaskan, untuk meredam dampak tersebut, pemerintah bersama pelaku industri petrokimia telah menempuh sejumlah langkah strategis. Salah satunya mencari sumber pasokan alternatif di luar Timur Tengah guna mengurangi ketergantungan pada kawasan tersebut.
Selain itu, industri juga mulai mengoptimalkan penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga (buffer) untuk menjaga kesinambungan produksi. Pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi juga didorong sebagai alternatif guna menjaga stabilitas pasokan di pasar domestik.
Di sisi lain, Agus memastikan kondisi stok plastik dalam negeri masih aman. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang menunjukkan subsektor industri kemasan masih berada dalam fase ekspansi tinggi pada Maret 2026.
Baca Juga: Solusi Bangun Indonesia (SMCB) Suplai Beton Siap Pakai ke Pabrik Lotte Cilegon
Ia mengakui terdapat kenaikan harga di tingkat produksi akibat lonjakan biaya bahan baku global. Namun, ia menegaskan tidak ada potensi kelangkaan bahan baku plastik di dalam negeri.
“Ketersediaan tetap aman, pemerintah memastikan tidak terjadi kekosongan stok dengan mengoptimalkan berbagai sumber pasokan,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













