kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.772.000   35.000   1,28%
  • USD/IDR 16.986   13,00   0,08%
  • IDX 9.031   -103,29   -1,13%
  • KOMPAS100 1.243   -12,37   -0,99%
  • LQ45 876   -8,65   -0,98%
  • ISSI 331   -3,34   -1,00%
  • IDX30 447   -7,21   -1,59%
  • IDXHIDIV20 522   -16,55   -3,08%
  • IDX80 138   -1,34   -0,96%
  • IDXV30 143   -5,16   -3,47%
  • IDXQ30 143   -2,93   -2,01%

Pebisnis percetakan bidik pertumbuhan 5% di 2016


Jumat, 11 Desember 2015 / 10:25 WIB
Pebisnis percetakan bidik pertumbuhan 5% di 2016


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Jelang tutup tahun 2015, kalangan pebisnis percetakan menatap langkah positif di tahun mendatang. Apalagi proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik tahun depan bisa lebih baik dari tahun ini.

Jimmy Juneanto, Presiden Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia memperkirakan, pertumbuhan industri percetakan nasional pada tahun depan bisa meraup pertumbuhan positif. Ia memprediksi pertumbuhan antara 5% sampai 5,5%. "Biasanya pertumbuhan industri percetakan selalu seiring pertumbuhan ekonomi, tahun ini sebesar pertumbuhan 2014," ujarnya kepada KONTAN, (9/10).

Menurutnya selama nilai tukar rupiah terhadap dollar  Amerika Serikat tidak terus melambung, gambaran bisnis percetakan tahun depan masih bisa positif. Maklum, bagi industri percetakan, fluktuasi dollar sangat mempengaruhi laju bisnis industri percetakan.

Jimmy menjelaskan, kenaikan kurs terkadang membuat perusahaan percetakan kesulitan menyesuaikan kenaikan harga jual. "Kami tidak seperti PLN, yang bisa langsung menyesuaikan harga,"  imbuhnya.

Maklum, komponen dollar di industri percetakan lumayan membebani. Ia mencontohkan untuk perusahaan percetakan beroplah gede, biasanya kebutuhan dollar kisaran 20%-25%, sebelum termasuk peralatan. Sedangkan untuk percetakan beroplah kecil, kebutuhan dollar bisa jauh lebih tinggi hingga 50%. Penggunaan bahan baku kertas yang lebih sedikit rupanya mendorong penggunaan komponen impor yang lebih banyak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×