CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.016,00   11,88   1.18%
  • EMAS971.000 -0,31%
  • RD.SAHAM -1.86%
  • RD.CAMPURAN -0.70%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pedagang pasar sebut harga minyak goreng dan cabai melonjak


Rabu, 03 November 2021 / 06:05 WIB
Pedagang pasar sebut harga minyak goreng dan cabai melonjak


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mengklasifikasikan dua komoditi pangan yang masuk dalam status rawan jelang akhir tahun 2021 nanti. Dua komoditi pangan tersebut ialah minyak goreng dan cabai yang kini mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.

Ketua Umum IKAPPI Abdullah Mansuri mengatakan, harga minyak goreng di pasaran tembus hingga Rp18.000 - Rp19.000 per liter. Bahkan Abdullah mengungkapkan harga minyak goreng ada yang sampai menyentuh Rp 20.000 per liter.

"Minyak goreng ini tuh udah lama banget ya harganya udah berbulan-bulan catatan kami itu bisa 6 bulan di atas HET. Sekarang lebih parah lagi harganya Rp 17.000 paling rendah sampai ada Rp 20.000 di Jakarta. Ini memang jadi konflik karena HETnya itu Rp 12.000 sampai Rp 13.000. Jadi ini jauh di atas harga eceran tertinggi, ini persoalan tersendiri," jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (2/11).

Adapun komoditas pangan lain yang mengalami kenaikan harga ialah cabai. Saat ini cabai merah keriting ada di harga Rp 41.000 - Rp 42.000 per kilogram. Kemudian ada cabe TW juga sudah merangkak naik harganya menjadi Rp 39.000 per kilogram.

Baca Juga: Harga minyak goreng melonjak, pemerintah berencana hentikan ekspor CPO

"Daging juga menjadi komoditas yang menurut saya punya kekhawatiran khusus untuk akan naik tinggi di Desember, karena permintaannya cukup tinggi nantinya," imbuhnya.

Perihal kondisi cuaca dengan adanya La Nina, Abdullah juga mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi dampaknya terhadap komoditi pangan. Kondisi akhir tahun dan adanya La Nina, IKAPPI meminta adanya ketersediaan stok pangan, agar supply dan demand di pasar dapat seimbang.

Data yang akurat menjadi modal pemerintah untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem di akhir tahun yang akan berdampak pada ketersediaan pangan dan akhirnya mempengaruhi harga. Data dinilai menjadi modal untuk menentukan kebijakan ke depannya.

Abdullah menambahkan, pemerintah memerlukan data kebutuhan jelang dan pasca Natal dan Tahun Baru (Nataru), data distribusi pangan, hingga data komoditas pangan yang terdampak cuaca seperti La Nina.

Baca Juga: Berikut faktor pendorong inflasi pada Oktober 2021

"Perlu data, ada efek ngga Nataru pada distribusi pangan, ada ngga? Jika beberapa komoditas itu bergantung pada cuaca seperti kayak La Lina ada hambatan ngga? Kemudian sejauh mana hambatannya? berapa produksi? Semua itu bisa diukur jika Pemerintah punya punya data. Kementerian Pertanian dalam hal ini ini kami anggap kurang untuk mengantisipasi persoalan-persoalan yang terjadi," kata Abdullah.

Sebagai informasi, Kementerian Perdagangan mencatat per 1 November secara nasional komoditi minyak goreng curah naik 11,27% dibandingkan bulan lalu menjadi Rp 15.800 per liter, minyak goreng kemasan sederhana naik 8,78% menjadi Rp 16.100 perliter, minyak goreng kemasan premium naik 6,71% menjadi Rp 17.500 per liter.

Kemudian cabai merah keriting dibandingkan bulan lalu naik 15,10% menjadi Rp 34.300 per kilogram, cabai merah besar naik 13,31% menjadi Rp 33.200 per kilogram.

Selanjutnya: Pelonggaran PPKM, Bank Mandiri perkirakan inflasi Oktober 2021 capai 0,12% mom

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Planner Development Program Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×