Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) memandang pelemahan kurs rupiah saat ini tidak bisa dijadikan dasar untuk menilai daya saing kinerja ekspor, termasuk untuk produk mebel dan kerajinan.
"Pelemahan rupiah memang bisa memberi keuntungan sementara bagi eksportir, tetapi itu tidak boleh dijadikan basis daya saing," kata Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).
Sobur menekankan, industri tidak bisa hanya berharap dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Daya saing yang sehat, menurutnya, harus datang dari produktivitas, efisiensi, desain, kualitas, kepastian bahan baku, promosi pasar, hingga dukungan pembiayaan yang kompetitif.
Baca Juga: Jelang Libur Sekolah 2026, Tiket.com Genjot Promo Hotel Besar
Pun, Sobur bilang, pasar ekspor berpotensi terdampak secara tidak langsung oleh kenaikan suku bunga acuan atau BI rate yang saat ini sudah di level 5,5%.
"Buyer global juga menghadapi suku bunga tinggi, perlambatan konsumsi, dan ketidakpastian geopolitik," ujarnya.
Untuk itu, Sobur menilai prospek pertumbuhan industri mebel dan kerajinan hingga akhir tahun ini tak mudah.
Pasalnya, industri masih diwarnai tantangan seperti ongkos pembiayaan tinggi, kurs yang bergejolak, permintaan global yang belum sepenuhnya pulih, biaya logistik, tekanan impor, hingga kebutuhan peningkatan produktivitas.
Walakin, Sobur menyebut peluang tetap terbuka mengingat Indonesia punya kekuatan bahan baku, craftsmanship, desain berbasis budaya, serta pasar ekspor yang masih besar.
Baca Juga: ESDM dan PLN Gelar Rapat Maraton Imbas Isu Pemadaman Listrik Disejumlah Wilayah
"Terutama ke Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, India, dan pasar emerging lainnya," sambungnya.
Secara keseluruhan, HIMKI melihat kunci pertumbuhan terletak pada penguatan ekosistem. Baik dari hulu bahan baku, teknologi produksi, desain, branding, pameran internasional, pembiayaan ekspor, hingga diplomasi dagang.
HIMKI menilai, gelaran-gelaran seperti Indonesia International Furniture Expo (IFEX), Indowood Expo, dan berbagai program promosi perlu menjadi bagian dari strategi meningkatkan daya saing industri.
"HIMKI melihat kuncinya adalah bagaimana industri tidak berjalan sendiri," imbuh Sobur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













