kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   13.000   0,94%
  • USD/IDR 16.140
  • IDX 7.328   27,17   0,37%
  • KOMPAS100 1.142   4,95   0,44%
  • LQ45 920   5,02   0,55%
  • ISSI 219   0,28   0,13%
  • IDX30 458   2,53   0,56%
  • IDXHIDIV20 549   3,16   0,58%
  • IDX80 129   0,76   0,60%
  • IDXV30 127   0,36   0,29%
  • IDXQ30 155   0,64   0,42%

Pelemahan Kurs Rupiah Mengancam Industri Manufaktur


Rabu, 19 Juni 2024 / 05:55 WIB
Pelemahan Kurs Rupiah Mengancam Industri Manufaktur
ILUSTRASI. Apindo menyoroti tren pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS yang menekan industri manufaktur nasional.(KONTAN/Baihaki)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti tren pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang makin menekan industri manufaktur nasional.

Mengutip situs Bloomberg, kurs rupiah berada di level Rp 16.412 per dolar pada Jumat (14/6) lalu atau melemah 0,87% dibandingkan hari sebelumnya.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyampaikan, pelemahan rupiah hingga ke level Rp 16.400-an per dolar AS sangat tidak kondusif bagi para pelaku usaha. Padahal, kurs rupiah di level Rp 16.000 per dolar AS saja sudah sangat mendongkrak biaya produksi dan operasional industri di Indonesia menjadi makin mahal. 

Level rupiah terkini juga tidak terjangkau dan kompetitif untuk pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri, termasuk sektor industri yang berorientasi ekspor.

Baca Juga: Pelaku Industri Manufaktur Mengaku Kehilangan Pesanan Akibat Aturan Impor

"Kenaikan cost of doing business ini juga tidak terbatas pada kenaikan beban impor bahan baku atau penolong, melainkan juga komponen beban usaha lain seperti beban logistik atau transportasi, beban finansial, dan lain-lain sehingga akan berdampak pada risiko penurunan kinerja usaha, penurunan potensi penciptaan lapangan kerja , kenaikan risiko NPL, penurunan kapasitas produksi, dan lain-lain," ungkap dia, Selasa (18/6).

Pelemahan rupiah juga berpotensi memberi dampak negatif terhadap realisasi investasi di industri manufaktur. Belum lagi, ada risiko peningkatan volatilitas atau spekulasi pasar keuangan yang cenderung memberi tekanan terhadap stabilitas makro ekonomi nasional.

Pasar domestik pun dikhawatirkan semakin lesu dan para konsumen produk hasil manufaktur cenderung menahan diri jika pelemahan rupiah terus terjadi dan dibiarkan.

Apindo sangat berharap pemerintah terus berupaya melakukan berbagai intervensi kebijakan yang dibutuhkan untk menciptakan stabilitas dan penguatan nilai tukar rupiah. 

"Memang upaya tersebut tidak mudah karena pelemahan nilai tukar ini terjadi karena kondisi eksternal yang di luar kendali kita. Namun, saat ini depresiasi rupiah adalah yg ketiga terdalam di Asia Tenggara secara year to date (ytd)," jelas dia.

Baca Juga: Jumlah Pengangguran Terbuka Diprediksi Naik Tahun Ini

Maka dari itu, pelemahan rupiah harus diwaspadai dan segera diatasi jika tidak ingin ekspor dan realisasi investasi Indonesia tergerus. Kedua hal tersebut dinilai Apindo memiliki kontribusi signifikan terhadap stabilitas makro ekonomi, industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih tinggi secara keseluruhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×